Translate

Selasa, 15 Januari 2013

Pacar Tukang Bohong (FULL)

Suatu hariGen berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Rin yang sudah menunggunya di tempat biasa. Mungkin sudah satu jam Rin duduk disitu. Hari ini dia ada janji dengan Rin, ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Tentang hubungan mereka, selama empat bulan ini. Gen yang meminta Rin untuk datang kesini, karena ini adalah keputusan yang diambil Gen.

“Hai, maaf telat.” Ujar Gen dengan napas ngos-ngosan saat menghampiri Rin yang sedang membaca buku tebal. Gen menggaruk-garuk kepalanya karena tidak ada tanggapan dari Rin. Dia tahu Rin pasti marah kepadanya. Dia menyadari kalau dia bukan tipe cowok yang selalu tepat waktu kalau janjian. “Maaf.” Ulang Gen lagi dengan nada getir.

Rin mengangkat kepalanya, menatap Gen yang berdiri tegap dengan kepala menunduk dihadapannya. Dia melepas kacamata dan menutup buku tebalnya. “Gak usah minta maaf. Udah keseringan. Dan udah jadi kebiasaan kamu kalo janjian pasti ngaret. Jadi aku maklumin aja.” Ucap Rin.
Gen menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Rin. “Umm.. Rin, maaf seandainya aku manggil kamu dan minta ketemuan disini secara mendadak. Aku rasa ini memang harus dibicarakan. Aku udah mikirin semuanya dan aku tau ini berat buat aku dan mungkin juga berat buat kamu nerima semua ini. aku…
“Kenapa sih kamu kalo ngomong selalu berbelit-belit? Gak perlu kayak makalah harus pake pendahuluan dulu. Langsung tu de poin apa salahnya sih?” Sanggah Rin dengan nada kesal. Rin menatap Gen dengan tatapan sinis. Dia sudah muak dengan semua alasan Gen yang selalu gak masuk akal. Gen itu PEMBOHONG! Bullshit. Bukan Cuma satu kali dia ngebohongin Rin. Rin sudah tidak sabar lagi mendengar kebohongan Gen kali ini. kebohongan seperti apa lagi yang akan diucapkannya setelah ini. dan dia sudah tidak sabar lagi ingin melabrak Gen. Dia merasa sudah tidak sanggup lagi pacaran dengan Gen yang selalu bohong. Selalu! Gen itu cowok kaku, nggak romantis, dan suka bohong. Entah kenapa Rin bisa suka sama Gen. Mungkin karena waktu itu dia melihat Gen itu ganteng, tinggi, baik dan mungkin juga cowok baik-baik. Waktu itu Rin sering melihat Gen keluar masuk masjid kampus. Tapi setelah dia pacaran dengan Gen selama empat bulan ini, Dia baru tahu sifat buruk Gen.

“Emmm.. ok. Kalau kamu mau aku to the point, tapi sebelumnya aku pengen minta maaf dan terimakasih atas semuanya. Maaf atas semua kelakuan dan kata-kata aku yang pernah bikin kamu sakit.”
Banyak! banyak kata-kata lo yang bikin gue sakit. terutama bullshit lu. Gumam Rin dalam hati.
“Maaf kalau selama ini aku suka nyebelin dan segala macem. Makasih buat semuanya. Aku rasa hubungan kita cuma sampai disini. Maaf.” Gen menundukkan kepalanya.

Rin terdiam sesaat. Dia heran kenapa dia tidak kaget mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Gen. “Maksud kamu, putus?” tanya Rin.
Gen mengangguk pelan. Dia tidak berani menatap mata Rin.

“Baiklah, kalau itu memang mau kamu. Why not?” ujar Rin santai. Dia sudah menyangka kalau hal ini bakalan terjadi hari ini. hanya sedikit dari hati kecilnya merasa akan kehilangan Gen setelah ini. tapi kenapa sebagian besar dia tidak merasakan hal yang menyedihkan seperti kebanyakan orang. Apa karena dia sudah tidak sayang lagi sama Gen, apa karena semua omong kosong Gen yang selama ini membuatnya jadi ilfill.
Kali ini Gen yang terkejut. Dia tersentak mendengar kata-kata Rin barusan. Dia menyangka kalau Rin bakalan nangis dan bakalan kaget mendengar kalimat perpisahan itu. Tapi semuanya salah. Rin malah dengan tenangnya menjawab sepperti itu.

“Rin… kamu nggak merasa keberatan kita putus?” Tanya Gen dengan nada getir. Sebenarnya dia yang sangat berat meninggalkan Rin. Dia heran. Rin sama sekali tidak menanyakan alasan kenapa dia memutuskannya.
Rin menggeleng. “Mungkin kamu harus belajar lagi cara memahami perasaan cewek yang sering dibohongin!! Makasih!” Rin berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan Gen yang masih duduk dengan kepala tertunduk. Sebagian wajahnya tertutupi oleh topi yang sering dipakainya. Topi itu adalah pemberian Rin.
“Rin!” panggil Gen saat Rin sudah agak jauh. Gen berlari menghampiri Rin. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecil yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi.
“Nih, kamu suka kan?” Seikat bunga edelweiss yang sudah diawetkan berada di dalam genggaman Gen. Gen tersenyum kecil. Senyum yang selalu dibanggakan Rin. Senyum yang hanya dimiliki Gen dan senyum yang paling indah yang pernah dilihatnya.

Rin terhenyak. Kenapa disaat seperti ini? Kenapa Gen selalu ingat dengan semua hal yang paling dia sukai. Dia memang suka dengan  bunga edelweiss. Tapi untuk saat ini? egonya terlalu besar untuk menerima bunga itu. Dia malu dan kalah dengan egonya sendiri.

Rin berjalan meninggalkan Gen. tanpa mengambil bunga edelweiss yang diberikan Gen. di depan pintu masuk café, Gen berdiri mematung menatap kepergian Rin. Seikat bunga edelweiss yang ada ditangannya seakan-akan berubah menjadi sebongkah es yang sangat dingin dan meleleh membasahi tangannya. Gen tertunduk. Dia membujuk hati kecilnya agar tetap tegar dan membujuk air matanya agar tidak keluar sekarang.

(***)

Satu bulan berlalu. Rin sibuk dengan skripsi yang dia buat. Sibuk dengan penelitian dan studi kasusnya. Sore ini Rin duduk di taman kampus. Sambil menikmati jus alpukat dia membaca novel yang sengaja dia bawa hari ini. rencananya hari ini adalah refreshing sambil baca novel di taman kampus. Saat membuka halaman pertengahan novel, Rin menemukan selembar kertas kecil yang dilipat. Dia membuka lipatan kecil itu dan di dalamnya ada tulisan yang mengingatkannya pada waktu itu.

(kalo kamu buka kertas ini dan baca tulisan ini, pasti kamu inget sama aku. hehe)

Rin langsung merobek kertas itu dan membuangya ke kolam yang ada dihadapannya. Dia ingat dengan waktu itu, waktu dimana mereka sedang menikmati matahari sore seperti biasa. Di taman matahari.

Rin menghela napas panjang. Sudah satu bulan lebih semenjak dia putus hubungan dengan Gen dia bisa melupakan Gen. tapi saat membaca tulisan tadi, dia jadi ingat kembali dengan sosok Gen yang dulu menjadi kebanggaannya. Begitu mudahnya dia melupakan Gen. lagi pula, selama satu bulan ini dia tidak pernah melihat Gen di kampus. Bahkan berpapasan pun juga gak pernah. Mungkin Gen juga sibuk mengurus skripsinya. Apa mungkin karena sosok Gen sudah tertutupi oleh sosok baru yang baru-baru ini muncul dikehidupannya. Ryu.

Dua bulan berlalu. Malam ini adalah malam perayaan ulang tahun Rin. Acaranya tidak begitu mewah, tapi banyak teman-temannya yang datang menghadiri acara yang diadakan di café ayahnya teman Rin. Ryu terlihat gagah malam ini dengan setelan jas hitam. Malam ini Rin merasa bahagia banget. Teman-teman kampus dan teman semasa SMA semuanya datang menghadiri acara malam ini.

Jam setengah dua belas, acara selesai. Saat Rin beranjak pulang dan baru memasuki mobil, tiba-tiba Beli mengetuk kaca mobilnya.

“Rin, ini ada titipan.” Beli menyerahkan kado yang dibungkus asal-asalan.
“Oh, Bel. bukannya perasaan tadi lo udah ngasih kado?” tanya Rin sambil menerima kado itu dan meletakkannya di jok belakang.
“Bukan, itu dari Genta.” Jawab Bil pelan.
“Oh..” ujar Rin. Tiba-tiba Rin merasakan jantungnya berdegup cepat dan dia merasakan sakit di bagian dadanya. Dia baru ingat kalau dia tidak mengundang Gen ke acara ulang tahunnya. “Gimana kabar Gen, Bel?” tanya Rin.
“Ummm.. Dia baik-baik aja kok.”Jawab Beli. “Oiya, dia juga titip salam buat kamu. Dan, ummm.. cowok yang tadi itu pacar kamu ya?”
“Salam balik deh sama Gen. Iya, itu cowok baru aku. Hehe.. Gimana?”
“Yah, lumayan. Tapi menurut gue lebih kerenan Gen. hehe. Oke, gue cabut dulu ya?”

Rin tertawa sekilas. Malam ini dia kembali teringat dengan sosok Gen. Wajar kalo Beli bilang masih kerenan Gen dibandingkan cowok barunya. Soalnya Beli adalah teman dekat Gen. Rin menstarter mobilnya. Dia menghela napas panjang. Kenapa setiap kali ingat dengan Gen, dia merasa dadanya seperti tertekan.

(***)

Hari ini Rin memutuskan untuk menemui Gen. Entah energy apa yang membawanya dan membuatnya ingin menemui Gen. tadi pagi, saat dia mencoba untuk menelpon Gen, telponnya tidak tersambung. Mungkin Gen ganti kartu.
Sesampainya di kontrakan Gen, dia mendapati rumah kotrakan terkunci rapat. Ring menghampiri pemiliki kontrakan dan menanyakan keberadaan Gen.

“Ohh.. udah pindah satu bulan yang lalu, nak. Cowok yang rambutnya suka acak-acakan itu kan?” Tanya bapak itu untuk meyakinkan.
“Iya, namanya Genta. Rambutnya sering acak-acakan dan penampilannya juga acak-acakan sama sering pake topi abu-abu yang ada tulisan Gen.” Jawab Rin sambil mengingat-ngingat sosok Gen yang memang itulah dia.
“Iya, dia sama temannya si Beli udah pindah satu bulan lalu.”
“Kalau boleh tau pindahnya kemana ya, Pak?”
“Wah bapak kurang tau, nak.”
“Oh, yaudah. Makasih ya, Pak.” Rin kemudian beranjak meninggalkan kontrakan Gen.

(***)

 Rin menghentikan Beli saat dia berpapasan dengan Beli didepan kelas. Dia ingin menanyakan keberadaan Gen.

“Bel, Gen sekarang dimana?”
“Oh? Ummm.. Dia ada di kontrakan kok.” Jawab Beli santai.
“Bohong! Kemaren lusa gue ke kontrakan kalian dan kata pemilik kontrakannya kalian udah pindah satu bulan lalu.”
Deg!! Beli tersentak kaget. “umm.. hehe.. maksudnya udah pindah kontrakan.” Jawabnya dengan agak sedikit gugup.
“Dimana?” Desak Rin.
“Umm.. Dimana ya? lupa nama jalannya. Tapi dia baik-baik aja kok. Hehe.”
Rin menatap mata Beli dengan tatapan menyelidik. Beli menundukkan  kepalanya.
“Beli?!” panggil Rin dengan nada tegas.
“Gue gak bohong kok. Gen baik-baik saja. Cuma..”
“Cuma apa?” desak Rin lagi.
“Eh, gue ada janji sama Dosen. Sori.” Beli langsung berlari meninggalkan Rin.

Rin merasakan ada yang tidak beres.

(***)

Entah kenapa dalam beberapa hari ini Rin jadi kepikiran sama Gen. apalagi sejak melihat tingkah laku Beli yang aneh waktu itu. Seperti menyembunyikan sesuatu. Rin mulai mencari kabar dan mencari tahu tentang keberadaan Gen. Mulai dari menanyai teman-teman terdekat Gen sampai teman tonkrongan Gen.
Tiga hari Rin mencari tahu kabar Gen, tapi semuanya menjawab dengan jawaban yang sama seperti jawaban Beli. Kecurigaan Rin semakin bertambah. Ryu, pacarnya makin curiga dengan kekhawatiran Rin.

“Ngapain sih khawatir sama cowok yang udah buang kamu gitu aja? Kamu tau nggak, kamu tuh dipermainkan sama Gen dan temen-temennya.” Kata-kata Ryu kemarin masih terngiang-ngiang di dalam benaknya. Akhirnya Rin mengalah. Ngapain juga susah-susah nyari tau kabar Gen yang udah mutusin dia. Rin merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk di kamarnya. Tiba-tiba Rin teringat dengan Cahyo, teman dekat Gen juga. Dia anaknya alim yang suka bolak-balik ke masjid bareng Gen. Rin yakin kalo yang satu ini nggak bakalan berani boong.

Rin segera bangkit dari kasur dan berkemas, siap menuju kampus. Di kampus, Rin langsung berjalan menuju masjid. Masih ada waktu setengah jam sebelum azan zuhur. Sambil mendengarkan musik dari headsetnya, Rin bersender d dinding teras masjid. Rin mencoba memejamkan matanya namun bayangan Gen selalu melintas dalam benaknya. Senyum Gen yang indah itu selalu melintas saat dia mencoba untuk memejamkan mata. Semakin dia berusaha melupakan,bayangan itu semakin terlihat nyata.
Lima belas menit kemudian Rin melihat sosok yang ditunggunya. Cahyo. Rin langsung bergegas menghampiri Cahyo. Cowok muka lugu itu kaget melihat Rin yang datang menghampirinya.

“Astaghfirullah!” seru Cahyo kaget ketika melihat Rin yang datang menghampirinya. “Subhanallah,” Ucapnya kemudian ketika melihat wajah Rin. “Eh, Rin ternyata. Ada apa ya?” tanyanya kemudian.
“Cahyo, kamu satu kelas sama Gen, kan? Kamu tahu Gen sekarang ngontrak dimana?”
Cahyo garuk-garuk kepala. “Waduh, ane gak tau tuh si Gen ngontrak dimana. Coba deh Rin tanya sama Beli, pasti dia tahu.”
Rin menghela napas panjang. “Gue udah nanya Beli tapi dia nggak mau ngasih tau. Oiya, tapi kamu tahu kan kabar Gen sekarang gimana?”
“Oh, kalo itu sih ane udah tau. Udah tiga bulan Gen nggak masuk kuliah. Katanya sih cuti. Tapi beberapa hari yang lalu saya denger dari Beli katanya dia sakit.”

DEG!! Rin terhenyak. Benar. Berarti benar kekhawatirannya selama ini. Dan benar kecurigaannya terhadap Beli selama ini. Rin mengepal tinjunya. Rasanya dia ingin menonjok muka Beli saat itu juga. Kenapa pake rahasia-rahasiaan coba?
“Kamu tahu Gen sakit apa?”
“Kalo sakitnya ane kurang tau tuh.” Jawab Cahyo. Tiba-tiba ponsel Cahyo berdering. “Rin, tar dulu ya, ada panggilan masuk nih, ndak enak kalo didiemin.” Abis ngomong gitu Cahyo berjalan agak jauhan dari Rin.
“Halo? Kenapa, Bel?”
“Apa? Astaghfirullah. Lho? Lho? Lho? kok bisa?” Cahyo panik. Sedangkan Rin memperhatikan gelagat Cahyo dari jauh.
“Lah, Ane gak punya kendaraan buat kerumah ente, gimana sih!”
“Sama siapa? Nggak ada, orang dia udah pulang tadi pas matkul kedua.”
“Yaudh, ane usahain aja. Tar nebeng ke siapa aja. Assalamu’alaikum.”
Cahyo menghela napas panjang sambil meletakkan kembali ponselnya. “Siapa, Yo?” tanya Rin.”
“Itu, si Beli. Udah dulu ya, Rin. Ane buru-buru nih mau ke rumah Beli.”
“Ngapain?”
“Oh iya, barusan Rin kan nanyain Gen? dia sekarang di rumah Beli. Mau ke rumah Beli nggak?”
“Emangnya Gen kenapa?” Rin semakin tambah panik melihat mimik Cahyo yang panik seperti itu.
“Emm… Itu.. Anu.. Gen, koma. Dia ndak sadar dari tadi pagi, sekarang ane diminta…”
“Ayo cepetan! Tunjukin jalan ke rumah Beli.” Rin langsung menarik tangan Cahyo. Dia berlari menuju basement tempat parkir mobilnya. Tanpa disadarinya, air matanya menetes satu per satu.
“Anu, Rin. Gen bukan di rumah Beli, tapi di rumah sakit tempat ayahnya Beli kerja.”
Rin mengangguk pelan kemudian masuk ke dalam mobil diikuti oleh Cahyo.

(***)

Rin memarkirkan mobilnya di tempat parkir rumah sakit. kemudian berjalan tergesa mengikuti langkah kaki Cahyo menuju ruang ICU. Rin merasakan lututnya lemas seperti tidak sanggup untuk berjalan lagi. Saat dia mengetahui rumah sakit yang ditujunya adalah rumah sakit kanker, Rin langsung lemas dan mual. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa keadaan Gen yang sekarang, yang kena kanker.
Mereka tiba di ruang ICU. Beli kaget melihat Cahyo yang datang bersama Rin. Dia menepuk keningnya dan menarik Cahyo. Teman Beli menahan Rin agar tidak masuk ke ruang ICU terlebih dahulu.

“Cahyo… grrrrrrrrhh..! Beli gregetan. Dia bingung mau bilang apa. Sebab memang salah dia nggak ngasih tau Cahyo sebelumnya kalau tidak memberitahu Rin apapun tentang Gen.
“Kenapa?”tanya Cahyo polos.
“Kenapa harus sama, Rin??”
“Lah wong tadi yang dikampus cuma ada Rin. Yasudah ane berangkatnya sama Rin. Lagian dia sebelumnya nanya kea ne kabar Gen gimana. Yauddah sekalian.”

Grrrrrgghhhh,…!! Beli semakin gregetan. “Yasudah. Gen udah sadar tapi kondisinya masih kritis. Tadi katanya dia pengen ketemu lo sebelum kondisinya koma.”

“Oh, yasudah, ane kedalam dulu ya.” Cahyo kemudian beranjak dan masuk ke dalam ruang ICU sambil mengenakan baju khusus.
Rin duduk di depan ruang ICU bersama teman-teman Gen. lumayan banyak teman-teman Gen yang datang, mulai dari anak tongkrongan, teman kampus dan teman organisasinya. Tidak begitu banyak yang Rin kenal, hanya sebagian.
“Rin, maaf sebelumnya kita nutup-nutupin semua ini dari lo.” Ujar Beli seraya duduk disamping Rin.

“Kamu tahu, kita disini juga panik sama keadaan Gen yang seperti ini. penyakitnya memang sudah lama, tapi dia tidak mau ngasih tau gua sama teman-teman yang lain, bahkan lo juga gak dikasih tau. Kankernya sudah ada sejak lo pacaran sama dia. Dia berobat sendiri. Gua sebagai teman dekatnya gak dikasih tau. Dia itu keras kepala dan punya prinsip gak mau nyusahin orang lain.” Beli menghentikan kalimatnya. Air matanya menetes satu per satu. “Dia kerja part time buat biaya berobatnya. Gua kira dia kerja part time buat ngisi waktu kosong dan buat ngebiayain kuliah. Dia udah gua anggap sebagai kakak gua sendiri. Dia anak yatim piatu, udah biasa hidup ditempat keras kayak gini, tapi dia keras kepala! Dan gue tahu dia punya penyakit kanker saat gue nemuin resep obat keras di saku bajunya. Dan gue udah mulai curiga saat dia pergi kerja part time malam-malam. Dan ternyata dia bukan kerja, dia ke RS buat kemoterapi, buat ngobatin kankernya. Dia nutupin semua itu dengan berbohong sama gue, bahkan juga sama lo. Dan sekarang, inilah yang terjadi. Saat dia tau kalau gue udah tahu penyakitnya, dia mint ague untuk tutup mulut dan dia nggak mau lo tahu tentang penyakitnya ini. dia benar-benar keras kepala. Dia nggak mau nyusahin orang lain.” Ujar Beli panjang lebar.

Rin menyeka air matanya. Saat dia melihat Cahyo keluar dari ruang ICU, Rin bergegas masuk. Sebelumnya dia ditahan oleh suster karena sudah banyak yang masuk ke ruangan itu. Beli menjelaskan kalau Rin adalah penjenguk terakhir. Akhirnya Rin diizinkan masuk.
Tubuh kurus itu terbaring lemas diatas kasur putih dengan selang pipa infuse dan obat serta jarum menusuk tubuhnya. Rin menghampiri Gen yang terbaring lemah. Rin tidak bisa membendung air matanya. Dia membiarkan air matanya tumpah begitu saja. Dipeluknya tubuh Gen. Ditatapnya mata Gen. mata yang dulu sering menatapnya dalam-dalam, tatapan yang dulu penuh kasih sayang. Kondisi gen sangat memprihatinkan. Tidak ada sehelai rambut lagi yang tumbuh dikepalanya akibat kemoterapi, dan disekitar matanya agak cekung dan sedikit menghitam.

“Rin..” Panggil Gen dengan nada getir.
“Ya…” jawab Rin. Dia menatap Gen. dia merindukan sosok Gen yang dulu selalu melindunginya dan selalu menghiburnya.
“Maaf..” ucap Gen getir..
“Maaf buat apa? Kamu nggak salah kok. Aku yang salah. Akunya yang egois. Selalu pengen menang sendiri.” Rin semakin terisak.
“.. Rinn…”
“Iya?”
“ Jangan … nangis..” Gen berusaha untuk menyeka air mata Rin. Tangannya gemetar seperti tidak ada tenaga lagi. Tapi akhirnya dia bisa menyeka air mata Rin.

Tiba-tiba suster masuk ke dalam ruang ICU dan mengatakan kalau waktu Rin sudah habis. Rin menyeka air matanya sekali lagi. Rin pamit kepada Gen.

“Gen, aku yakin kamu bakalan baik-baik aja kok. Banyak yang bisa lolos dari penyakit ini. aku pulang dulu. Besok aku kesini lagi.”
Gen mengangguk. Saat Rin sudah beberapa langkah meninggalkan Gen. tiba-tiba Gen memanggil Rin.
“Rin..?”
Rin menoleh ke arah Gen.
“Jangan… Nangis.. Lagi ” ujarnya dengan nada getir. “Bye.. Bye..”
Rin semakin terisak. Dalam keadaan seperti itu dia masih bisa melihat Gen tersenyum. Rin meninggalkan ruang ICU. Dia berjalan keluar ruangan dan langsung menuju kamar mandi. Dia ingin menangis dan meluapkan semua emosinya.

(***)

Keesokan harinya, Rin sudah siap-siap untuk berangkat ke RS untuk menjenguk Gen. dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Rin langsung memasukkan barang-barang yang harus dibawanya, buku dan laptop untuk menyelesaikan tugas kampusnya.
Tapi, saat dia ingin keluar dari halaman rumahnya, Rin dihentikan oleh Beli.

“Rin, bisa kita ngobrol sebentar di dalem rumah kamu?”

Rin akhirnya menyetujui dan kembali memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Rin mengajak Beli masuk ke dalam rumah. Beli duduk sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Flashdisk. Lebih tepatnya itu punya Gen. Rin tahu, soalnya flashdisk itu selalu dibawa Gen kemana-mana.

“Nih, dari Gen.”
“Lho? kenapa?”
“Ummm.. gue harap tar malem atau besok lo liat isinya. Jangan sekarang.”
“Kenapa emang?”
“Rin, Gen udah nggak ada.”

Rin tersentak kaget. Dia menutup mulutnya. Hal ini sangat mengejutkannya. Rin merasakan dadanya sakit. kerongkongannya tercekat. Matanya perih dan mukanya panas. Rin merasakan tubuhnya lemas seketika. Dia tidak bisa membayangkan semuanya. Gen? secepat itukah? Gen? kenapa bisa secepat ini?

(***)

Malamnya, Rin masih terhenyak dan masih tertekan atas kabar tentang Gen. Setelah pulang dari pemakaman Gen, Rin langsung mengurung diri di kamar. dia menangis sampai matanya perih.

Rin teringat dengan falshdisk Gen yang dikasih Beli waktu itu. Rin langsung mencolokkan flashdisknya dan langsung melihat isinya. Di dalamnya terdapat dua folder. Folder pertama namanya foto with Rin, folder yang kedua namanya Video untuk Rin.

Rin mulai membuka folder kedua. Didalamnya ada satu video, kemudian Rin langsung meng-klik video tersebut.
Hai, Rin. Apakabar? (Dalam video itu ada Gen. Gen yang membuat video itu sendiri. Mungkin mengguakan hadycam. Rin yakin, pasti Gen membuat video ini pas lagi di kamar rumah sakit)

Rin, sebelumnya, aku pengen minta maaf sama kamu. Aku pengin ngejelasin semuanya waktu itu ke kamu. Tapi kamunya langsung pergi. Maaf, Rin. Aku ngambil keputusan ini karena aku gak mau nyusahin kamu nantinya.

Rin,maaf kalau selama ini aku sering bohongin kamu. Sebenarnya, setiap aku bohong ke kamu, aku lagi di rumah sakit. lagi kemoterapi. Maaf , Rin.aku ngambil keputusan buat putus hubungan ke kamu, karena aku udah nggak tau mau gimana lagi. Waktu itu aku divonis dokter yang menangani aku kalau umurku paling lama dua bulan lagi. Maka dari itu, aku mutusin kamu agar kamu nantinya nggak kaget. Mungkin ini tindakan bodoh. Tapi, waktu aku mutusin kamu, kamu terlihat fine-fine aja. Apa karena kamu waktu itu marah sama aku, Rin? Apa karena aku udah keterlaluan sama kamu, Rin?

Rin, maaf sebelumnya kalau aku nutupin semua ini dari kamu, aku nggak bisa ngejelasin ke siapa-siapa kalau aku punya penyakit kanker ini. Cuma Beli yang tahu. Aku bingung mau ngejelasin ini ke kamu. Waktu itu aku sempat ke kampus buat nemuin kamu, tapi waktu itu bukan waktu yang tepat buat ngomongin masalah ini, waktu itu aku lihat kamu lagi have fun sama seorang cowok. awalnya  Aku nggak tahu cowok itu siapa, tapi akhirnya aku tahu kalau itu cowok baru kamu. Aku dikasih tahu Beli. Mudah-mudahan lancar ya dan lanjut sampe nikah. Hehe,….
Oiya, maaf waktu itu aku gak bisa datang ke acara ultah kamu. Aku Cuma bisa nitipin kado sama Beli. Maaf kalo kadonya jelek dan nggak berharga…

Sampai disini Rin memencet tombol “pause”. Rin beranjak dari kasurnya dan mengambil kado pemberian Gen waktu itu. Kado itu belum sempat dibukanya. Rin langsung membuka kado tersebut dan saat itu juga air mata Rin tumpah. Bunga Edelweis yang waktu itu tidak diambilnya dari Gen pada saat Gen mutusin Rin. Rin terhenyak. Dia mengambil secarik kertas yang ada dalam kado tersebut. Dia membacanya.

“SELAMAT ULANG TAHUN. SEMOGA SEMUA CITA-CITA DAN HARAPANNYA TERCAPAI. JADI SEMAKIN DEWASA DALAM ILMU PENGETAHUAN DAN AGAMA. AMIEN”

Rin menyeka air matanya dan kembali melihat video tadi.

Malam itu rencananya aku pengin banget ke acara ultah kamu. Aku pengin liat kamu pake gaun. Kata Beli, kamu malem itu cantik banget. Oiya Rin,bunga edelweiss itu aku sendiri lho yang metik. Hehe, aku boong lagi ke kamu waktu itu. Aku gak bilang-bilang kalau aku ikut pendakian missal sama anak Pencinta Alam. Rencananya mau bikin surprise eh malah sakit kena hipotermia. Hehe.

Rin, kamu adalah cewek baik yang peduli dan care sama aku. Makasih atas semuanya, kamu baik banget Rin. Dan juga, tadaaaa… (Gen memakai topi pemberian Rin).. topi ini berharga banget buat aku. Makasih ya. hehe.. makasih atas semuanya.
Semuanya udah terjadi, dan kita udah bikin kenang-kenangan dalam memori kita. Bercanda, berantem, ledek-ledekan, nonton bareng, jalan bareng, dan semuanya adalah hal yang berharga dan sayang untuk dilupain.

Rin, seandainya kamu tahu perasaan aku waktu aku mutusin kamu, rasanya sakit banget, Rin. Tapi itulah jalan yang harus aku ambil. Oiya, bentar lagi kamu siding skripsi ya? mudah-mudahan sukses ya, Rin. Amien. Langsung dapet kerja dan semua cita-cita kamu bisa tercapai.
Rin, seandainya nanti aku udah nggak ada. Aku pengen kamu nggak ngelupain aku kalau kamu bisa. Sebab, orang yang sudah nggak ada di dunia ini, hanya akan bisa hidup dalam setiap kenangan orang yang masih hidup. Aku pengen hidup lagi dalam kenangan kamu, Rin.
Sampai disini dulu ya, Rin. Aku minta maaf kalau aku pernah nyakitin perasaan kamu.
Bye-bye, Rin.

Rin terdiam. Dia memeluk bantalnya sangat erat. Rin terisak. Tangisnya tak bisa berhenti.

Jauh di lubuk hatinya, dia sangat meraskan kehilangan Gen. saat dia mengingat Gen, senyum indah Gen selalu berkelebat dalam benaknya. Gen, maafin aku. Maafin aku. Gumam Rin sambil terisak.

2 komentar:

==================| Mohon Memberikan Komentar yang Baik :) |==================