Translate

Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juni 2014

Resensi Novel "Summer Breeze"



 Identitas buku
1.      Judul                     : Summer Breeze
2.      Penulis                   : Orizuka
3.      Penerbit                 : Puspa Swara
4.      Tahun terbit           : 2006
5.      Tempat terbit         : Jakarta
6.      Tebal                     : 216 halaman
7.      Ukuran                  : 13 × 19 cm
8.      Jenis cover             : Soft cover
9.      Harga                    : Rp 35.000,-
10.  No. ISBN              : 979 24 4862 4

Sinopsis
Ares dan Orion adalah anak laki-laki kembar. Reina adalah anak perempuan teman bermain Ares dan Orion sewaktu kecil. Mereka bertiga berjanji untuk selalu bersama. Suatu hari mereka membuat surat permohonan yang ditulis di kertas dan dimasukkan ke dalam kaleng biskuit lalu di kubur dibawah pohon akasia di taman dekat rumah mereka, dan akan membaca surat itu sepuluh tahun yang akan datang. Tapi tak lama kemudian Reina pindah ke Amerika karena tugas Ayahnya. Membuat Ares dan Orion kecil sedih dan kehilangan atas kepindahan Reina.


Kini Ares dan Orion sudah remaja, mereka kuliah di tempat yang sama. Ares selalu dianggap bodoh oleh keluarganya, sehingga dia menjadi pemuda yang emosional, skeptis, urakan, dan suka berkelahi, dia mendapat julukan preman kampus. Berbeda dengan Orion, dia mahasiswa yang berprestasi di bidang akademik dan olahraga, dan dia menjadi bintang di kampusnya dan menjadi kebanggaan orang tuanya.


Perlakuan Ayah sangat berbeda terhadap Ares dan Orion, Ares hanya dianggap pembuat masalah dalam keluarga. Ayah sering memukuli Ares, setiap Ares terlibat masalah tanpa peduli apa masalahnya, sebenarnya Ares tidak seperti yang orang lain kira, dia memang berbeda dengan saudara kembarnya, Ares penderita disleksia, dia merahasiakan dari keluarganya, hanya Ares dan dokter Affandi yang mengetahui hal itu.


Bagi Ares, Reina sudah menghianati janjinya, tidak pernah ada kabar sedikitpun dari Reina. Ares tidak ingin mengingat lagi tentang Reina, dia berusaha melupakannya meskipun dihatinya dia masih mengharapkannya. Sudah sepuluh tahun berlalu, toh Reina tidak datang juga untuk memenuhi janjinya untuk bersama membuka dan membaca surat yang mereka buat seperti janjinya sepuluh tahun lalu.


Orion berhasil menemukan kontak dengan Reina melalui friendster. Mereka menjalin hubungan melalui dunia maya tersebut. Setiap malam dia berusaha menghubungi Reina melalui chat room.


Pagi itu adalah hari ulang tahun Ares dan Orion yang ke 20, Ayah dan Ibu membuat kejutan pada waktu mereka makan pagi bersama, mereka memberikan kado istimewa, Ayah sengaja mendatangkannya lagsung dari Amerika. Kado istimewa itu ternyata Reina yang diundang Ayah untuk bisa datang pada hari ulang tahun Ares dan Orion.


Orion sangat terkejut dan senang sekali atas kedatangan Reina, Reina tumbuh menjadi gadis cantik sekarang. Orion sangat mengharapkan pertemuan ini, karena Orion juga meyayangi Reina. Gadis yang selalu hadir dalam mimpinya dan pikirannya selama ini. Reina pun senang, karena akhirnya bisa bertemu dengan Ares dan Orion.


Meskipun terkejut dan senang, tapi Ares menyembunyikan perasaan itu dan tidak mau menunjukannya kepada Reina, dia masih merasa kecewa, marah karena kepergian Reina saat itu.Reina sedih melihat sikap Ares. Karena sebenarnya alasan Reina untuk bisa datang kembali ke Indonesia adalah Ares. Dia sangat menyayangi dan merindukan Ares.


Selama di Indonesia Reina akan tinggal dirumah mereka. Reina memilih tidur dikamar Ares yang berantakan dan dipenuhi poster-poster penyanyi idola Ares. Pilihan Reina membuat Orion dan Ibu merasa heran, dan membuat Ares kesal.


Orion mengajak Reina untuk menemaninya latihan basket di kampusnya. Orion adalah bintang di teamnya, karena permainannya memang bagus. Ada yang tidak suka atas prestasi Orion, dia Raul pesaing team basket di kampus Orion. Karena sebentar lagi akan diadakan turnamen basket antar mahasiswa. Raul menginginkan dia bisa menjadi kapten di team yang selama ini dipegang Orion.


Raul adalah pengecut yang hanya berani mengeroyok orang yang dianggap menghalanginya dengan menyuruh anak buahnya. Dia juga menyukai Lala gadis cantik dikampusnya yang pernah menjadi kekasih Orion dan dekat dengan Ares.


Reina berusaha menemui Ares, yang sedang main band di cafe bersama teman-temannya malam itu. Reina berhasil pergi tanpa diketahui Orion dan Ayah Ibu, dia menuju cafe dimana Ares sedang bermain band. Ares terkejut dan marah melihat Reina bisa ada di cafe itu. Bagi Reina malam itu adalah kesempatannya untuk mengungkapkan rasa rindu dan sayangnya serta menjelaskan yang telah terjadi selama ini kepada Ares. Reina berhasil meyakinkan Ares, dan akhirnya Ares mempercayai Reina dan kembali bersikap baik.


Malam itu juga dirumah, Ayah Ibu dan Orion menunggu kedatangan Reina. Setelah diketahui Reina datang dengan Ares, tanpa mendengarkan penjelasan dari Reina, Ayah langsung memarahi dan memukul Ares. Keadaan biasa yang sering diterima Ares atas perlakuan Ayahnya itu membuat Reina sedih dan berusaha menjelaskan kepada orang tua Ares bahwa malam itu semua adalah keinginan Reina dan bukan salah Ares.


Tapi itu belum menyelesaikan masalah, Orion masih dendam karena Reina ternyata memilih Ares, dan dia berusaha menghajar Ares, merekapun terlibat perkelahian. Orion bukanlah jago berkelahi seperti Ares. Orion merasa Reina telah direbut ole Ares dengan cara yang licik.


Setelah peristiwa itu, hubungan Ares dan Orion semakin buruk. Mereka tidak pernah bicara satu sama lain. Terlebih Ares melihat Reina sedang menunggui Orion latihan basket di kampus.


Sore itu sepulang dari kuliah, Ares sudah ditunggu oleh Reina dan Orion untuk ke taman dimana mereka pernah membuat surat permohonan yang dikubur dibawah pohon akasia. Mereka akan membacanya bersama. Orion menulis keinginannya untuk menjadi arsitek. Ares menulis keinginannya ’aku pengen pegi ke bufan masa Ayah dan Ibu’, dengan ejaan yang salah, karena saat menulis surat itu, Ares masih mengalami gangguan menulis yang parah.


Membaca surat permohonan itu sekarang benar-benar membuka luka lama buat Ares. Reina sudah diberitahu Ares bahwa dia menderita disleksia, dan itu tidak merubah rasa sayang Reina terhadap Ares. Reina berusaha meyakinkan rasa sayangnya kepada Ares dengan menunjukkan surat yang telah ditulisnya sepuluh tahun lalu, yaitu ’ Reina pengen selalu bersama Ares, habis Reina suka sama Ares!’


Ares merasa perubahan besar dalam hidupnya. Seseorang mengharapkannya. Seseorang memilihnya. Seseorang suka padanya. Seseorang bernama Reina. Gadis yang selama sepuluh tahun ini memenuhi mimpi-mimpinya. Gadis yang sangat diinginkannya lebih dari apapun didunia. Dan sekarang gadis itu ada tepat didepannya.


Ares pun kini mempunyai semangatnya lagi. Dia ingin mewujudkan cita-citanya untuk menjadi pilot. Dia bekerja dan mengumpulkan uang untuk dapat membiayai dirinya masuk sekolah pilot di Deraya, sekolah penerbangan yang ada di bandara Halim Perdana Kusuma. Dia ingin membuktikan bahwa dia mampu mewujudkan cita-citanya.


Turnamen basket antar mahasiswa tinggal beberapa hari lagi. Orion berlatih basket ditemani Reina. Orion mendapat ancaman dari Raul. Raul akan menghabisi Orion jika dia tidak mau menyerahkan gelar kapten team pada Raul. Orion tidak peduli dengan ancaman Raul. Manager team basketpun tetap memilih Orion sebagai Kapten team itu.


Hari yang ditunggu datang juga, Orion siap bertanding di turnamen itu. Reina dan Lala sudah ada di bangku penonton memberi support untuk Orion. Kali ini Orion ingin sekali Ares melihatnya bertanding. Orion mencari Ares diantara penonton, tapi dia tidak mendapatkannya. Orion kecewa, tapi dari tempat tersembunyi ternyata Ares melihat pertandingan basket Orion. Ares bangga, melihat permainan Orion.


Orion bermain full time tanpa diganti untuk beristirahat oleh manager teamnya. Orion kelelahan dengan tenaga yang sudah habis, akhirnya team basket kampus Orion berhasil menang tipis dari team lawan. Tapi kelelahannya terbayar sudah ketika dia melihat Ares ternyata ada disana untuk melihatnya bertanding.


Tapi diantara kebahagian Orion saat itu, Raul yang penuh dendam, bersama anak buahnya sudah siap untuk menghabisi Orion. Raul menemui Orion dan membawanya ketempat yang sudah direncanakan Raul, dimana anak buahnya sudah bersiap menghabisi Orion.


Dalam perjalanan menemui Reina di depan kampus, Ares melihat segerombolan orang berjalan tergesa. Dan dia mengenali orang-orang itu adalah anak buah Raul yang pernah berkelahi dengannya. Ares menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres saat itu, dia teringat pada Orion. Ares mencari Orion dan menemukan Orion sedang di keroyok oleh kelompok Raul. Ares tau Orion bukanlah jago berantem seperti dia. Ares langsung menolong Orion, diapun terlibat dalam perkelahian yang tak imbang itu.


Orion jatuh setelah dipukuli. Orion terus berusaha melawan kelompok Raul. Tanpa diketahui Ares, dari belakang dia diserang oleh lawan yang membawa potongan balok kayu dan memukul kepala Ares. Ares terjatuh berlumuran darah yang keluar dari kepalanya. Reina dan Lala yang sedari tadi hanya bisa melihat dan menanggis, menjerit melihat Ares jatuh tak sadarkan diri.


Ares dibawa ke rumah sakit, dia koma hampir satu jam dan baru siuman dari operasi beberapa hari setelah itu. Dokter menyatakan Ares gegar otak. Ayah sangat sedih, dengan setia Ayah menunggu di sisi Ares sampai Ares tersadar.


Akhirnya Ares membuka matanya, dia sadar dan melihat orang-orang yang disayanginya ada dikelilingnya. Keadaan Ares membuat semua yang ada merasa terharu melihatnya. Reina hampir menangis, namun dia bahagia karena akhirnya dia bisa melihat Ares tersadar dari koma.


Dua bulan setelah Ares diperbolehkan pulang dari rumah sakit, dengan setia Reina mendampinginya. Reina telah membatalkan rencananya untuk kembali ke Amerika sejak peristiwa sore itu. Dia hanya ingin selalu bersama Ares, dan selalu ada untuk Ares. Karena keadaan Ares tidaklah membaik. Tidak seperti Ares yang dulu, kini Ares harus mendapat bantuan orang lain untuk melakukan kegiatannya.


Pagi itu Ares merasa cukup kuat, dia berusaha mengumpulkan segenap tenaganya, agar bisa tampil sehat didepan keluarganya. Dia ingin mengajak Reina berjalan-jalan di taman. Reina terperanjat melihat Ares menggunakan pakaian serba putih. Jelas-jelas bukan yang diinginkan Reina. Ini mengingatkannya pada mimpi buruknya.


Reina denagn takut-takut bergerak kearah Ares, lalu memegang tangannya. Reina benar-benar mempunyai perasaan buruk soal baju ini, tapi melihat kondisi Ares yang benar-benar baik, dia mengusir perasaan itu. Mungkin ini hanya sugesti atau apa.


Ares dan Reina berjalan menuju taman. Reina merasakan hangatnya tubuh Ares. Reina benar-benar senang Ares bisa sesehat ini.


Mereka sampai di taman. Reina melepaskan tangan Ares lalu dia duduk di bawah pohon perjanjian mereka. Kemudian Ares merebahkan diri. Reina merasakan keadaan Ares kembali memburuk. Napasnya tersengal seperti kemarin, dan tak ada lagi senyum cerah di wajahnya. Singkatnya, Ares seperti kembali sakit setelah keluar dari rumah.


Melihat kondisi Ares, Reina mengajaknya pulang. Ares menolaknya. Dia mengulurkan tangan agar Reina menyambutnya. Reina mengikutinya, lalu merebahkan dirinya disamping Ares. Reina bisa mendengar detak jantung Ares, dan kepala Reina bergerak naik turun seiring dengan napas Ares yang cepat.


Ares masih merasakan kesadarannya. Tapi dada dan kepalanya terasa sangat sakit. Reina diam saja sementara mendengarkan detak jantung Ares yang tak beraturan. Reina merasa sudah berbuat bodoh. Harusnya tadi pulang dan meminta bantuan.


Kini Ares merasa sudah merasa tak sanggup menahan sakitnya. Dia berusaha mengatakan sesuatu kepada Reina. Reina tidak mau mendengar apa yang Ares katakan. Dia tidak mau mendengar kata-kata Ares yang lebih terdengar seperti ucapan selamat tinggal. Ares menghela napas, lalu mengumpulkan tenaga lagi, dia mulai bernyanyi.


Reina mendengar setiap kata dari bait-bait lagu Ares yang dinyayikan dengan suara liri. Reina ingin menangis, tapi tak dilakukannya. Reina meresapi kata-kata Ares lagi. Tapi beberapa detik kemudian, reina menyadari sesuatu.


Bahwa tak terdengar apapun lagi di telinga kiri Reina. Tidak terasa lagi gerakan naik-turun dari dada Ares. Reina berharap dia bermimpi. Reina tidak mau melihat wajah Ares. Reina yakin, tak ada apa pun yang terjadi. Reina berharap Ares hanya tertidur.


Tapi Reina tak merasakan detak sekecil apa pun. Reina merasakan sekujur tubuh Ares dingin dan kaku.


Ares sudah meninggal. Ares yang disayanginya sudah meninggalkannya. Reina menangis tanpa bergerak sedikit pun dari dada Ares.


Tak akan ada lagi Ares yang bagai kobaran api. Tapi kenangan tentangnya akan terus berkobar di hati Reina.


Pemakaman Atres sudah berakhir. Ayah dan Ibu masih tampak shock. Kematian Ares yang tak terduga kemarin memang mengejutkan banyak orang. Orion tak menyangka kalau kemarin Ares hanya berpura-pura sehat.


Tapi Orion tak menyesal. Dia sudah berbaikan dengan Ares. Entah mengapa Orion merasa lega sekaligus kehilangan pada saat yang bersamaan. Lega karena akhirnya Ares terbebas dari penderitaannya, kehilangan karena Orion belum sempat menghabiskan banyak waktu bersamanya.


Tadi Ayah dan Ibu sangat terkejut dengan penemuannya dikamar Ares. Mereka menemukan sebuah berkas berlabelkan Deraya, sekolah peenerbangan, yang berisi brosur, copy formulir, dan juga surat pengantar. Semua tak ada yang percaya bahwa Ares memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi pilot, dan dia berhasil membuktikan pada semua orang bahwa dia mampu. Ayah sampai menangis karenanya.


Dan seakan belum cukup, dokter Affandi, dokter umum yang dulu sering menerima keluhan Ares, saat datang ke pemakaman mengatakan bahwa Ares pengidap disleksia dari sejak kecil. Jelas, Ayah, Ibu dan Orion shock berat. Selama ini mereka menyangka Ares ank bodoh atau ber-IQ rendah. Dokter Affandi bingung karena tak seorang pun dari keluarga Ares yang mengetahui hal ini. Dan dia segera meminta maaf karena merasatelah menambah kesedihan Ayah dan Ibu.


Ares sering mendapat perlakuan tak adil karena dia menderita disleksia. Ayah lah yang merasa paling menderita dengan berita ini. Dia merasa buruk karena telah salah paham, dan juga tidak memperhatikan tanda-tanda disleksia pada Ares kecil. Ibu juga menderita karena merasa dirinya bukan Ibu yang baik karena tak mengenali tanda-tanda disleksia pada Ares. Orion juga merasa bersalah karena dulu dia malah selalu berusaha menjadi lebih dari ares. Seumur hidup Orion sudah bertarung dengan Ares dalam hal apa pun, tapi pada akhirnya memang ares lah yang pantas menjadi juaranya.


Orion menatap Reina yang masih memandangi pusara Ares yang dipenuhi bunga. Orion tahu Reina pasti sangat terpukul karena kehilangan Ares, karenadialah orang terakhir yang berada di samping Ares menjelang ajalnya.


Sekarang, semua orang sudah pulang, begitu pula Ayah dan Ibu. Yang tertinggal hanyalah Reina dan Orion. Tidak ada yang berbicara diantara mereka selama beberapa menit. Orion dan Reina sIbuk dengan pikirannya masing masing.


Orion memandang Reina yang tampak hampa. Reina meletakkan bunga mawar di atsa pusara Ares. Lalu Reina menatap Orion dengan mata berkaca-kaca. Orion tak membalasnya. Dia memandangi pusara Ares. Orion bergerak mengambil bunga dari keranjang, lalu meletakkannya persis disebelah bunga Reina.


Reina tersenyum, lalu bersama Orion pergi dari pemakaman, meninggalkan cintanya.


Hanya untuk sementara saja, janji Reina.

Unsur intrinstik novel
1.      Tema
·         Seorang anak kembar yang memiliki sifat sangat jauh berbeda 180◦.
·         Perjuangan Ares yang mempunyai penyakit disleksia, namun  ia tetap dapat mengejar cita-citanya.
·         Kesetiaan seorang gadis terhadap teman masa kecil yang ia cintai, meski sudah berpisah 10 tahun lebih.
2.      Tokoh
·         Tokoh utama : Antares
·         Tokoh kedua : Orion
·         Tokoh ketiga : Reina
·         Tokoh pembantu : Tante Risa, Lala, Raul, Dipo, Wanda, Odi
·         Tokoh piguran : Reno, Juanda, Dokter Ardi, Aryo, Heru, Faisal
3.      Penokohan
·         Ares : Preman kampus, skeptis dan emosional. Seumur hidup dicap bodoh oleh semua orang karena ia menderita penyakit disleksia. Bagi keluarganya, masa depan Ares gelap, segelap malam yang paling buta.
·         Orion : Bintang basket, penerima beasiswa, sekaligus cowok popular di kampus, Bagi keluarganya, masa depan Orion cerah, secerah matahari.
·         Reina : Cewek cantik bak bidadari, teman masa kecil Ares dan Orion. Tapi Reina sangat mencintai Ares, saudara kembar Orion.
4.      Alur
Alur maju, dimana novel menceritakan masa kecil Ares dan Orion yang bersahabat dengan gadis cantik bernama Reina, namun Reina harus tinggal di Amerika dan Ia kembali ke Indonesia setelah 10 tahun lebih.
5.      Sudut pandang
Sudut pandang orang pertama
6.      Amanat
·         Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan orang tua tidak boleh membeda-bedakan anak-anaknya.
·         Orang tua harus dapat memahami masalah yang dialami oleh anak-anaknya, karena itu komunikasi didalam keluarga sangatlah penting.

B.     Kelemahan Novel “Summer Breeze”
1.      Kelemahan Sampulnya yaitu :
·         Judul tidak menjelaskan isi novel.
·         Warna sampul bagus, namun tidak cocok dibaca oleh kalangan dewasa
2.      Kelemahan Isinya yaitu :
·         Ada beberapa kata yang menggunakan bahasa Inggris, sehingga membuat bingung pembaca dalam memahami kata-kata tersebut.
·         Isinya sebagian kecil menceritakan tentang kebiasaan merokok dan perkelahian yang tidak patut di contoh.

C.    Kelebihan Novel “Summer Breeze”
1.      Kelebihan Sampulnya yaitu :
·         Gambar sesuai dengan isi, yaitu seorang gadis dan saudara kembar yang berbeda sifat yang di gambarkan dengan cirri-ciri fisik yang berbeda pula.
·         Warnanya menarik sehingga cocok dibaca oreh kaum remaja.
·         Sampulnya terdapat logo penerbitnya.
·         Bagian belakang sampul terdapat synopsis yang memudahkan pembaca dalam memahami isi novel keseluruhan.
2.      Kelebihan Isinya yaitu :
·         Alurnya jelas, sehingga membuat para pembaca seperti ikut merasakan suasana sesuai dengan isi cerita.
·         Menceritakan tentang kesetiaan dan keteguhan seorang gadis meski sudah berpisah selama puluhan tahun.
·         Isi dari novel tersebut menggunakan kata-kata yang sederhana, sehingga pembaca lebih mudah memahami novel tersebut

D.    Gaya bahasa :
Novel ini menggunakan bahasa modern, ringan namun tetap sanggup menghantarkan makna yang dalam. Penulis juga banyak menyisipkan kata-kata asing sebab ada banyak kutipan lirik lagu yang dimasukkan.

E.     Biografi Penulis
Orizuka (nama asli Okke Rizka Septiani) adalah pengarang novel remaja yang telah menghasilkan 18 karya, di antaranya yaitu Summer Breeze, telah diangkat ke layar lebar pada tahun 2008.

 Lahir di Palembang 26 tahun silam, penggemar thriller ini senang mempelajari bahasa asing. Selain menulis, di waktu luang ia gemar membaca, menonton, mendengarkan music serta fangirling bersama para Kpoppers. Gadis yang humoris ini kuliah di Komunikasi UGM angkatan 2004. Bola dan basket adalah tontonan favoritnya. Dari SMP udah biasa nulis-nulis, dan beberapa karyanya telah dipublikasikan. Dia juga pernah menjadi juara 2 Lomba Teenlit Puspa Swara.

Sumber: sumber1, sumber2, sumber3
READ MORE >>> Resensi Novel "Summer Breeze"

Selasa, 15 Januari 2013

Rasa Kuliah



Meskipun belum kelar kuliah tepatnya masih semester 3, kayaknya belum pantes buat nulis yang kayak beginian. Tapi nggak tau kenapa, dari kemaren tuh kepikiran pengen nulis iniiiii mulu.. Atau mungkin saja ini adalah salah satu cara gue mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini terpendam (ceilaahh bahasanya). gue, memang bukan orang yang suka banyak ngomong, dan "Nulis" adalah salah satu wadah buat gue ngomong. wahaha :)

Bicara tentang perkuliahan, kayaknya udah nggak asing lagi buat anak kuliahan (lho?) mungkin asing di telinga tukang sayur, (iyalah!) tapi jangan remehkan tukang sayur lho? dia itu salah satu item yang sangat penting bagi mahasiswa (terutama yang tinggal di Jogja) Gudeg mas? Kecuali tukang sayurnya lulusan S1 persayuran.. ok, kembali ke topik awal, kenapa dunia perkuliahan ada Manis, Asem, Asin dan Kecut yang rasanya ngalahin nano-nano?

dari awal, mari kita tinjau dari kacamata dan perspektif anak SMA tentang perkuliahan "Kebanyakan" mereka pikir kuliah itu "BEbas, pake baju seenaknya, bisa cuti, pokoknya enak dehhhh.. apalagi udah ngekost sendiri, nggak ada yang ngatur-ngatur lagi. nggak ada bikin PR lagi, dan segala macem yang mereka anggap menjadi beban di SMA mereka singkirkan dan mereka membayangkan KULIAH itu MENYENANGKAN.

tapi...

Memang kuliah itu menyenangkan. dan dibalik bayang-bayang kata "MENYENANGKAN" itu ada kata "Kurang Menyenangkan" dan itu terjadi selama proses menjalani perkuliahan. Bagi gue sendiri, Kuliah itu menyenangkan,(meskipun terkadang ada hal yang kurang menyenangkan, tapi semua hal yang kurang menyenangkan itu hilang karena ada "SOMETHING" yang menghilangkannya)  :) dan Something itu akan muncul di bagian akhir nanti.

dari pertama kali masuk kuliah, (mahasiswa baru) dimana masa-masa dan sifat SMA masih melekat erat, pikiran biasanya masih BLANK tentang dunia perkuliahan. Kuliah ngapain aja sih? Kalo nanya ke senior biasanya dijawab "Ah, kuliah mah enak, duduk, dengerin dosen ngoceh, becanda sama cewek, dapet gebetan dan lain lain.. bla bla bla..(senior yang kayak gini menganut paham Masa bodoisme) . dan ada juga senior yang jawabnya kayak gini "Ah, ntar juga pasti tau kok" (nah kalo yang kayak gini menganut paham "Cuekisme"). disini anak mahasiswa baru biasanya akan bener-bener blank  dan nggak tahu apa-apa. PAs dia masuk kuliah, Eh ternyata bener apa yang dibilang senior yang pertama, kuliah itu enak, duduk dengerin dosen ngoceh dan lain sebagainya.selang beberapa bulan, mulai ada perubahan. bagi yang benar-benar serius kuliah akan merasakan perubahan ini. bagi yang nggak serius kuliah cuma sekedar Kunang-kunang (kuliah nangkring-kuliah nangkring) atau Kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) atau Kupil-kupil (kuliah ngupil-kuliah ngupil) pasti nggak akan ngerasain perubahan ini. nah perubahannya kebanyakan dari porsi yang kecil.

ada perubahan di kelas, mulai dari persaingan biar dapet nilai gede sampai persaingan biar dianggap pintar di depan temen-temennya. kalo yang cewek dari pas gue masuk semester satu kemaren pada saingan"BEHEL" siapa yang paling keren dan "Lensa Kontak" siapa yang paling bagus. kalo semester tiga sekarang ceweknya pada saingan "Kerudung Siapa Yang Paling Cakep Cara Pakenya dan Siapa yang Paling Rempong Make Kerudungnya".kayaknya cewek semakin hari, modenya semakin ribet ya. kerudung aja sekarang cara makenya makin ribet. kata dosen gue mahasiswi sekarang kayak "Onta Arab". bukan gue yg ngomong lho. tapi kita lihat sisi positifnya aja, "ALHAMDULILLAH sekarang cewek banyak yang seneng pake kerudung." Kalo perubahan di cowok, yah kayaknya kurang tau. cowok mah dimana-mana easy going dan serba simpel. Paling keren-kerenan gaya rambut doang. Beda lagi kalo cowoknya yang agak "GEMULAI" gimanaa gitu. ya mungkin ikut-ikutan pake behel biar penampilannya terlihat semakin gemulai.

oke, kembali ke topik persaingan ketat, "Nilai". bukan masalah sepele lho tentang nilai ini bagi mahasiswa yang serius kuliah. ya karena memang selain agar dia bisa dapet ilmu di bangku perkuliahan, dia juga pengen dapet nilai yang gede. logis kan?. Analoginya gini, masa gue udah capek-capek kuliah dan serius kuliah pas lulus nanti nilainya JEBLOK. yaaaa minimal bisa  CUM LAUDE dehhh.. ( haha ). persaingan nilai kayak gini biasanya akan berlangsung selama masa perkuliahan. segala macem cara ditempuh agar bisa dapet nilai gede.apalagi pas UAS atau UTS, semuanya mulai mengencangkan sabuk.
mulai dari belajar mati-matian sampe mata bengkak, terus mulai dengan kreatifitas sendiri "dateng ke abang fotocopy sambil bilang Bang, ini difotocopy tapi tulisannya tolong diperkecil" Sumpah! gue belom pernah ngelakuin yang kayak gini. puiiih, harga diri di depan abang fotocopy rasanya diinjak-injak kalo ngelakuin yang kayak gini. dalam hati abang fotocopynya bilang gini "YAelah neng, kalo kuliahnya kayak gini mah saya juga bisa"
ingat, nyontek itu awal dari belajar korupsi. ya meskipun pas di SMA kemaren gue juga sering nyontek. tapi di bangku kuliah, belom. TOBAAAT!!

ujung-ujungnya, kalo nilai udah keluar, biasanya yang IP-nya paling gede langsung mendapat lirikan dari warga kelas. beda orang beda porsi lirikannya.kalo orangnya pinter dapet IP gede, orang yang sirik biasanya ngelirik "Huh, wajar dapet nilai gede, pas gue minta kasih tau jawaban nggak dikasih tau"
tapi kalo yang nggak pinter-pinter amat terus dapet nilai gede, porsinya lain lagi "Huh, wajar dia kan nyonteknya jago banget. pake bikin kebetan di kotak pensil lagi". nah lho. biasanya ini ketahuan di semester 2 nya. kalo di semester 1, bau-bau curangnya belom tercium.

nah, kalo udah gini, yang punya sifat sirik dan tukang RUMPI langsung bikin gosip yang dilebih-lebihkan. (orang kayak gini cocok kerja di acara gosip di TV, kalo pas lulus kuliah nggak bisa kerja, palingan ntar di kampunya jadi pemimpin GRUP ICTGSRT= IKatan Cewek Tukang Gosip Satu RT). nantinya kebanyakan bikin gosip yang enggak-enggak. entah kebenarannya ada atau nggak, yang lain biasanya langsung termakan omongan nih orang. ujung-ujungnya, orang yang IPnya gede atau yang pinter di kelasnya akan tersisihkan. ini nih yang mirisnya disini. Kasian kan, kalau dia emang bener-bener pintar terus dituduh nyontek padahal dia belajar semaleman nah tiba-tiba dituduh dan dikuclikan dari kelas. Beuh.. nggak kebayang kalo seandainya ini terjadi di kelas gue.

selain itu, biasanya akan terjadi "Bersembunyi dibalik topeng" modus kayak gini biasanya kebanyakan terjadi yang karena dia udah bikin gosip yang enggak enak, dia akan bersembunyi dibalik topeng kebaikannya. dia punya banyak topeng lho, topeng senyum, topeng tulus, topeng baik dan dibalik semua itu mulutnya menyeringai.
ujung dari semuanya, akan terjadi blok-blok kecil yang membuat batas antara yang pintar dan yang biasa-biasa aja. yang pintar akan mengambil tindakan diam dan masa bodo dan menulikan pendengarannya. sedangkan yang biasa-biasa aja akan semakin tersisihkan tanta bantuan yang pengetahuannya melebihi mereka. tidak ada sharing, diskusi dan berbagi ilmu. hal ini yang ditakutkan akan terjadi di dalam kelas.konflik batin, memang tidak terlihat, tapi sangat berasa dan semua orang bisa merasakannya.dan itu, dibalik topeng-topeng itu yang biasanya jadi penyebabnya.

(mudah-mudahan hal ini nggak terjadi di kelas gue dan temen-temen)

Okeeeee.... relax dulu... hehe.. jangan dibikin tegang., minum dulu juice-nya. udah? lanjut...

Selain itu, yang bikin kita dilema saat kuliah biasanya Dilema Organisasi. kalo yang ada niat buat organisasi, terus ada stimulus dari senior dan kita masih dengan perasaan dan pikiran yang terombang-ambing, ikut nggak yaaaa???
pas OSPEK juga biasanya ada tawaran buat ikut organisasi ini. dengan embel-embel "Jangan jadi mahasiswa Kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) jangan jadi mahasiswa Kunang-kunang dan segala macem sebutannya. jadilah mahasiswa Kura-Kura (kuliah rapat-kuliah rapat).
sebenrnya kalo kita udah punya komitmen yang kuat buat ikut organisasi ya itu malah bagus.
gue selalu salut sama anak yang ikut organisasi. dibalik kesibukan kuliahnya mereka masih sempat mengurusi ummat. bagus lho.
tapiiiii......
dilihat dulu Organisasinya kayak gimana. kalo organisasinya cuma buat seru-seruan doang mah mendingan ga usah. bikin grup band aja sekalian. jangan remehin anak yang ikut organisasi, mereka penopang hidupnya kampus. hehe. salah satu cara yang terbaik adalah pada diri anda sendiri. keputusan ada di tangan anda. dan keputusan diambil untuk dijalani, bukan untuk disesali. nggak ada keadaan dan gambaran yang suram dalam organisasi, semuanya menyenangkan, hanya sama capeknya yang terkadang bikin ilfil.

kemudian...
yang bikin kecutnya dunia perkuliahan itu kayak gini.
saat diskusi kelompok di depan kelas, YANG PINTER SUKA MINTARIN DAN MERASA DIA PALING PINTAR,, dan yang BODOH SEMAKIN TERPOJOK.
ini biasanya terjadi kebanyak di kelas-kelas.
biasanya mahasiswa PENJILAT dosen, CAPER DEPAN DOSEN dan TUKANG NGETES.
saat diskusi di kelas biasanya penyaji materi udah prepare banget dengan materinya. saat diskusi berjalan, semuanya lancar, saat sesi pertanyaan dibuka, sering ada mahasiswa yang Merasa Sok Pinter nanya. (ini beda banget lho. semua mahasiswa juga bisa ngerasain dan ngebedain mana pertanyaan yang bener-bener pengen tahu sama pertanyaan ngetes)
biasanya orang sok pinter ini bertanya dengan pertanyaan yang NJELIMET alias RIBET. sambil bertanya atau sehabis nanya biasanya matanya melirik ke dosen, berharap dosen itu memperhatikannya dan menganggap pertanyaannya berbobot apa nggak, dan berharap dia dapet nilai plus dimata dosen, ujung-ujungnya biasanya berharap dianggap mahasiswa yang aktif di kelas.

sebenernya nggak kayak gitu, kalo emang bener-bener nggak pengen nanya ya jangan nanya. jangan dipaksain. kasian sama yang menyajikan materi., terpojok di depan dengan muka bengong mata melotot ke atas mencari-cari jawaban di kepalanya. kasian kan.
nah, biasanya yang sok pinter ini memberikan pertanyaan yang ribet dan kalo udah dijawab biasanya belum merasa puas dan muncul pertanyaan baru. sebenernya enak kalo diskusi kayak gini. tapi cara dianya itu lho yang kurang mengena di hati. haha.. diskusi yang paling enak itu ya memang seperti itu, tapi amosfer di kelas kalo dia mulu yang nanya, beuh bikin GEDEG! orang kayak gini biasanya udah punya jawaban sendiri dalam batok kepalanya. tapi ga tau kenapa.. jadi ribet deh kalo ngebahas yang beginian. semua kelas biasanya ada yang tipikalnya kayak gini. intinya, beda lho pertanyaan yang kritis sama yang ngetes.

oke, cukup segini aja dulu.,
sebenernya masih banyak hal-hal yang lain yang ada di dunia perkuliahan.
tapi kok perasaan yang dibahas yang asem sama kecut ya? yang manisnya mana?
ya ntar nyusul deh. mungkin hal-hal yang menyenangkan di perkulaiahan itu yang pastinya kelas adalah keluarga besar. disinilah kita merasakan kalau keluarga saat kita sedang kuliah itu ada di kelas. dan di kelas juga ada sahabat yang menyenangkan, dan hal yang paling menyenangkan di kelas adalah saling berbagi. entah itu berbagi makanan ringan atau berbagi cerita atau berbagi air minum saat haus. dan saat di kampus, yang pastinya banyak yang menjadi objek untuk dilihat dilihat. (bagi gue sendiri) inspirasi datang dari sudut manapun. bagi yang punya pasangan di kelas atau di kampus, biasanya selalu semangat berangkat kuliah. gerbang kampus belum dibuka dia sudah nangkring di depan gerbang. tapi pas giliran lagi berantem, rasanya udah nggak mau kuliah lagi. maybe.

selain itu, yang kecutnya lagi adalah saat beradaptasi di kelas. kebanyakan mahasiswa sering susah beradaptasi di kelas kalau temannya nggak klop dan banyak yang nggak sepemikiran dengannya. biasanya efeknya pengen pindah kelas atau pindah prodi karena prodi yang diambilnya nggak cocok.

oke? intinya, semua masalah yang dihadapi dan yang ada di perkuliahan itu adalah sebuah langkah menuju kedewasaan dan kesuksesan suatu hari nanti. jika kita memandangnya dengan kacamata positif, semua masalah yang ada dalam kehidupan itu akan bisa menjadi sebuah batu pijakan untuk menggapai sebuah kesuksesan. Tuhan, nggak akan membiarkan hambanya terus berada dalam kesusahan. selalu ada jalan untuk keluar. dari kesusahan kita ditempa, seperti pedang, dari sebatang besi yang bentuknya tidak beraturan, ditempa dengan palu baja, dibakar dengan api yang membara. hal itu berlangsung lama dan akhirnya jadi sebilah pedang yang siap menebas apapun yang menghalanginya.
begitu juga dengan kita, ditempa dengan masalah kehidupan, terpuruk dan bangkit lagi, semakin hari semakin dewasa dalam menghadapinya. saat keluar dari masalah, kita menjadi pribadi yang menyenangkan bagi diri sendiri. siap dan tangguh untuk menghadapi masalah yang akan datang.

yang pada intinya, masa-masa kuliah itu sangat menyenangkan. serius lho. palagi ada tugas, beuuuuhh... keren banget sibuknya. jadi berasa kuliahnya.
buat yang masih semangat-semangatnya kuliah, tetap semangat ya. buat yang down, ayo kembali semangat buat kuliah. ingat, orangtua di rumah nunggu kapan kita lulusnya dan deg-degan apa nantinya kita jadi pengangguran intelektual atau dapet kerja atau orang yang membuka lapangan pekerjaan buat orang lain, dan mungkin jadi orang yang berguna di masyarakat. :)
READ MORE >>> Rasa Kuliah

Pacar Tukang Bohong (FULL)

Suatu hariGen berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Rin yang sudah menunggunya di tempat biasa. Mungkin sudah satu jam Rin duduk disitu. Hari ini dia ada janji dengan Rin, ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Tentang hubungan mereka, selama empat bulan ini. Gen yang meminta Rin untuk datang kesini, karena ini adalah keputusan yang diambil Gen.

“Hai, maaf telat.” Ujar Gen dengan napas ngos-ngosan saat menghampiri Rin yang sedang membaca buku tebal. Gen menggaruk-garuk kepalanya karena tidak ada tanggapan dari Rin. Dia tahu Rin pasti marah kepadanya. Dia menyadari kalau dia bukan tipe cowok yang selalu tepat waktu kalau janjian. “Maaf.” Ulang Gen lagi dengan nada getir.

Rin mengangkat kepalanya, menatap Gen yang berdiri tegap dengan kepala menunduk dihadapannya. Dia melepas kacamata dan menutup buku tebalnya. “Gak usah minta maaf. Udah keseringan. Dan udah jadi kebiasaan kamu kalo janjian pasti ngaret. Jadi aku maklumin aja.” Ucap Rin.
Gen menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Rin. “Umm.. Rin, maaf seandainya aku manggil kamu dan minta ketemuan disini secara mendadak. Aku rasa ini memang harus dibicarakan. Aku udah mikirin semuanya dan aku tau ini berat buat aku dan mungkin juga berat buat kamu nerima semua ini. aku…
“Kenapa sih kamu kalo ngomong selalu berbelit-belit? Gak perlu kayak makalah harus pake pendahuluan dulu. Langsung tu de poin apa salahnya sih?” Sanggah Rin dengan nada kesal. Rin menatap Gen dengan tatapan sinis. Dia sudah muak dengan semua alasan Gen yang selalu gak masuk akal. Gen itu PEMBOHONG! Bullshit. Bukan Cuma satu kali dia ngebohongin Rin. Rin sudah tidak sabar lagi mendengar kebohongan Gen kali ini. kebohongan seperti apa lagi yang akan diucapkannya setelah ini. dan dia sudah tidak sabar lagi ingin melabrak Gen. Dia merasa sudah tidak sanggup lagi pacaran dengan Gen yang selalu bohong. Selalu! Gen itu cowok kaku, nggak romantis, dan suka bohong. Entah kenapa Rin bisa suka sama Gen. Mungkin karena waktu itu dia melihat Gen itu ganteng, tinggi, baik dan mungkin juga cowok baik-baik. Waktu itu Rin sering melihat Gen keluar masuk masjid kampus. Tapi setelah dia pacaran dengan Gen selama empat bulan ini, Dia baru tahu sifat buruk Gen.

“Emmm.. ok. Kalau kamu mau aku to the point, tapi sebelumnya aku pengen minta maaf dan terimakasih atas semuanya. Maaf atas semua kelakuan dan kata-kata aku yang pernah bikin kamu sakit.”
Banyak! banyak kata-kata lo yang bikin gue sakit. terutama bullshit lu. Gumam Rin dalam hati.
“Maaf kalau selama ini aku suka nyebelin dan segala macem. Makasih buat semuanya. Aku rasa hubungan kita cuma sampai disini. Maaf.” Gen menundukkan kepalanya.

Rin terdiam sesaat. Dia heran kenapa dia tidak kaget mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Gen. “Maksud kamu, putus?” tanya Rin.
Gen mengangguk pelan. Dia tidak berani menatap mata Rin.

“Baiklah, kalau itu memang mau kamu. Why not?” ujar Rin santai. Dia sudah menyangka kalau hal ini bakalan terjadi hari ini. hanya sedikit dari hati kecilnya merasa akan kehilangan Gen setelah ini. tapi kenapa sebagian besar dia tidak merasakan hal yang menyedihkan seperti kebanyakan orang. Apa karena dia sudah tidak sayang lagi sama Gen, apa karena semua omong kosong Gen yang selama ini membuatnya jadi ilfill.
Kali ini Gen yang terkejut. Dia tersentak mendengar kata-kata Rin barusan. Dia menyangka kalau Rin bakalan nangis dan bakalan kaget mendengar kalimat perpisahan itu. Tapi semuanya salah. Rin malah dengan tenangnya menjawab sepperti itu.

“Rin… kamu nggak merasa keberatan kita putus?” Tanya Gen dengan nada getir. Sebenarnya dia yang sangat berat meninggalkan Rin. Dia heran. Rin sama sekali tidak menanyakan alasan kenapa dia memutuskannya.
Rin menggeleng. “Mungkin kamu harus belajar lagi cara memahami perasaan cewek yang sering dibohongin!! Makasih!” Rin berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan Gen yang masih duduk dengan kepala tertunduk. Sebagian wajahnya tertutupi oleh topi yang sering dipakainya. Topi itu adalah pemberian Rin.
“Rin!” panggil Gen saat Rin sudah agak jauh. Gen berlari menghampiri Rin. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecil yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi.
“Nih, kamu suka kan?” Seikat bunga edelweiss yang sudah diawetkan berada di dalam genggaman Gen. Gen tersenyum kecil. Senyum yang selalu dibanggakan Rin. Senyum yang hanya dimiliki Gen dan senyum yang paling indah yang pernah dilihatnya.

Rin terhenyak. Kenapa disaat seperti ini? Kenapa Gen selalu ingat dengan semua hal yang paling dia sukai. Dia memang suka dengan  bunga edelweiss. Tapi untuk saat ini? egonya terlalu besar untuk menerima bunga itu. Dia malu dan kalah dengan egonya sendiri.

Rin berjalan meninggalkan Gen. tanpa mengambil bunga edelweiss yang diberikan Gen. di depan pintu masuk café, Gen berdiri mematung menatap kepergian Rin. Seikat bunga edelweiss yang ada ditangannya seakan-akan berubah menjadi sebongkah es yang sangat dingin dan meleleh membasahi tangannya. Gen tertunduk. Dia membujuk hati kecilnya agar tetap tegar dan membujuk air matanya agar tidak keluar sekarang.

(***)

Satu bulan berlalu. Rin sibuk dengan skripsi yang dia buat. Sibuk dengan penelitian dan studi kasusnya. Sore ini Rin duduk di taman kampus. Sambil menikmati jus alpukat dia membaca novel yang sengaja dia bawa hari ini. rencananya hari ini adalah refreshing sambil baca novel di taman kampus. Saat membuka halaman pertengahan novel, Rin menemukan selembar kertas kecil yang dilipat. Dia membuka lipatan kecil itu dan di dalamnya ada tulisan yang mengingatkannya pada waktu itu.

(kalo kamu buka kertas ini dan baca tulisan ini, pasti kamu inget sama aku. hehe)

Rin langsung merobek kertas itu dan membuangya ke kolam yang ada dihadapannya. Dia ingat dengan waktu itu, waktu dimana mereka sedang menikmati matahari sore seperti biasa. Di taman matahari.

Rin menghela napas panjang. Sudah satu bulan lebih semenjak dia putus hubungan dengan Gen dia bisa melupakan Gen. tapi saat membaca tulisan tadi, dia jadi ingat kembali dengan sosok Gen yang dulu menjadi kebanggaannya. Begitu mudahnya dia melupakan Gen. lagi pula, selama satu bulan ini dia tidak pernah melihat Gen di kampus. Bahkan berpapasan pun juga gak pernah. Mungkin Gen juga sibuk mengurus skripsinya. Apa mungkin karena sosok Gen sudah tertutupi oleh sosok baru yang baru-baru ini muncul dikehidupannya. Ryu.

Dua bulan berlalu. Malam ini adalah malam perayaan ulang tahun Rin. Acaranya tidak begitu mewah, tapi banyak teman-temannya yang datang menghadiri acara yang diadakan di café ayahnya teman Rin. Ryu terlihat gagah malam ini dengan setelan jas hitam. Malam ini Rin merasa bahagia banget. Teman-teman kampus dan teman semasa SMA semuanya datang menghadiri acara malam ini.

Jam setengah dua belas, acara selesai. Saat Rin beranjak pulang dan baru memasuki mobil, tiba-tiba Beli mengetuk kaca mobilnya.

“Rin, ini ada titipan.” Beli menyerahkan kado yang dibungkus asal-asalan.
“Oh, Bel. bukannya perasaan tadi lo udah ngasih kado?” tanya Rin sambil menerima kado itu dan meletakkannya di jok belakang.
“Bukan, itu dari Genta.” Jawab Bil pelan.
“Oh..” ujar Rin. Tiba-tiba Rin merasakan jantungnya berdegup cepat dan dia merasakan sakit di bagian dadanya. Dia baru ingat kalau dia tidak mengundang Gen ke acara ulang tahunnya. “Gimana kabar Gen, Bel?” tanya Rin.
“Ummm.. Dia baik-baik aja kok.”Jawab Beli. “Oiya, dia juga titip salam buat kamu. Dan, ummm.. cowok yang tadi itu pacar kamu ya?”
“Salam balik deh sama Gen. Iya, itu cowok baru aku. Hehe.. Gimana?”
“Yah, lumayan. Tapi menurut gue lebih kerenan Gen. hehe. Oke, gue cabut dulu ya?”

Rin tertawa sekilas. Malam ini dia kembali teringat dengan sosok Gen. Wajar kalo Beli bilang masih kerenan Gen dibandingkan cowok barunya. Soalnya Beli adalah teman dekat Gen. Rin menstarter mobilnya. Dia menghela napas panjang. Kenapa setiap kali ingat dengan Gen, dia merasa dadanya seperti tertekan.

(***)

Hari ini Rin memutuskan untuk menemui Gen. Entah energy apa yang membawanya dan membuatnya ingin menemui Gen. tadi pagi, saat dia mencoba untuk menelpon Gen, telponnya tidak tersambung. Mungkin Gen ganti kartu.
Sesampainya di kontrakan Gen, dia mendapati rumah kotrakan terkunci rapat. Ring menghampiri pemiliki kontrakan dan menanyakan keberadaan Gen.

“Ohh.. udah pindah satu bulan yang lalu, nak. Cowok yang rambutnya suka acak-acakan itu kan?” Tanya bapak itu untuk meyakinkan.
“Iya, namanya Genta. Rambutnya sering acak-acakan dan penampilannya juga acak-acakan sama sering pake topi abu-abu yang ada tulisan Gen.” Jawab Rin sambil mengingat-ngingat sosok Gen yang memang itulah dia.
“Iya, dia sama temannya si Beli udah pindah satu bulan lalu.”
“Kalau boleh tau pindahnya kemana ya, Pak?”
“Wah bapak kurang tau, nak.”
“Oh, yaudah. Makasih ya, Pak.” Rin kemudian beranjak meninggalkan kontrakan Gen.

(***)

 Rin menghentikan Beli saat dia berpapasan dengan Beli didepan kelas. Dia ingin menanyakan keberadaan Gen.

“Bel, Gen sekarang dimana?”
“Oh? Ummm.. Dia ada di kontrakan kok.” Jawab Beli santai.
“Bohong! Kemaren lusa gue ke kontrakan kalian dan kata pemilik kontrakannya kalian udah pindah satu bulan lalu.”
Deg!! Beli tersentak kaget. “umm.. hehe.. maksudnya udah pindah kontrakan.” Jawabnya dengan agak sedikit gugup.
“Dimana?” Desak Rin.
“Umm.. Dimana ya? lupa nama jalannya. Tapi dia baik-baik aja kok. Hehe.”
Rin menatap mata Beli dengan tatapan menyelidik. Beli menundukkan  kepalanya.
“Beli?!” panggil Rin dengan nada tegas.
“Gue gak bohong kok. Gen baik-baik saja. Cuma..”
“Cuma apa?” desak Rin lagi.
“Eh, gue ada janji sama Dosen. Sori.” Beli langsung berlari meninggalkan Rin.

Rin merasakan ada yang tidak beres.

(***)

Entah kenapa dalam beberapa hari ini Rin jadi kepikiran sama Gen. apalagi sejak melihat tingkah laku Beli yang aneh waktu itu. Seperti menyembunyikan sesuatu. Rin mulai mencari kabar dan mencari tahu tentang keberadaan Gen. Mulai dari menanyai teman-teman terdekat Gen sampai teman tonkrongan Gen.
Tiga hari Rin mencari tahu kabar Gen, tapi semuanya menjawab dengan jawaban yang sama seperti jawaban Beli. Kecurigaan Rin semakin bertambah. Ryu, pacarnya makin curiga dengan kekhawatiran Rin.

“Ngapain sih khawatir sama cowok yang udah buang kamu gitu aja? Kamu tau nggak, kamu tuh dipermainkan sama Gen dan temen-temennya.” Kata-kata Ryu kemarin masih terngiang-ngiang di dalam benaknya. Akhirnya Rin mengalah. Ngapain juga susah-susah nyari tau kabar Gen yang udah mutusin dia. Rin merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk di kamarnya. Tiba-tiba Rin teringat dengan Cahyo, teman dekat Gen juga. Dia anaknya alim yang suka bolak-balik ke masjid bareng Gen. Rin yakin kalo yang satu ini nggak bakalan berani boong.

Rin segera bangkit dari kasur dan berkemas, siap menuju kampus. Di kampus, Rin langsung berjalan menuju masjid. Masih ada waktu setengah jam sebelum azan zuhur. Sambil mendengarkan musik dari headsetnya, Rin bersender d dinding teras masjid. Rin mencoba memejamkan matanya namun bayangan Gen selalu melintas dalam benaknya. Senyum Gen yang indah itu selalu melintas saat dia mencoba untuk memejamkan mata. Semakin dia berusaha melupakan,bayangan itu semakin terlihat nyata.
Lima belas menit kemudian Rin melihat sosok yang ditunggunya. Cahyo. Rin langsung bergegas menghampiri Cahyo. Cowok muka lugu itu kaget melihat Rin yang datang menghampirinya.

“Astaghfirullah!” seru Cahyo kaget ketika melihat Rin yang datang menghampirinya. “Subhanallah,” Ucapnya kemudian ketika melihat wajah Rin. “Eh, Rin ternyata. Ada apa ya?” tanyanya kemudian.
“Cahyo, kamu satu kelas sama Gen, kan? Kamu tahu Gen sekarang ngontrak dimana?”
Cahyo garuk-garuk kepala. “Waduh, ane gak tau tuh si Gen ngontrak dimana. Coba deh Rin tanya sama Beli, pasti dia tahu.”
Rin menghela napas panjang. “Gue udah nanya Beli tapi dia nggak mau ngasih tau. Oiya, tapi kamu tahu kan kabar Gen sekarang gimana?”
“Oh, kalo itu sih ane udah tau. Udah tiga bulan Gen nggak masuk kuliah. Katanya sih cuti. Tapi beberapa hari yang lalu saya denger dari Beli katanya dia sakit.”

DEG!! Rin terhenyak. Benar. Berarti benar kekhawatirannya selama ini. Dan benar kecurigaannya terhadap Beli selama ini. Rin mengepal tinjunya. Rasanya dia ingin menonjok muka Beli saat itu juga. Kenapa pake rahasia-rahasiaan coba?
“Kamu tahu Gen sakit apa?”
“Kalo sakitnya ane kurang tau tuh.” Jawab Cahyo. Tiba-tiba ponsel Cahyo berdering. “Rin, tar dulu ya, ada panggilan masuk nih, ndak enak kalo didiemin.” Abis ngomong gitu Cahyo berjalan agak jauhan dari Rin.
“Halo? Kenapa, Bel?”
“Apa? Astaghfirullah. Lho? Lho? Lho? kok bisa?” Cahyo panik. Sedangkan Rin memperhatikan gelagat Cahyo dari jauh.
“Lah, Ane gak punya kendaraan buat kerumah ente, gimana sih!”
“Sama siapa? Nggak ada, orang dia udah pulang tadi pas matkul kedua.”
“Yaudh, ane usahain aja. Tar nebeng ke siapa aja. Assalamu’alaikum.”
Cahyo menghela napas panjang sambil meletakkan kembali ponselnya. “Siapa, Yo?” tanya Rin.”
“Itu, si Beli. Udah dulu ya, Rin. Ane buru-buru nih mau ke rumah Beli.”
“Ngapain?”
“Oh iya, barusan Rin kan nanyain Gen? dia sekarang di rumah Beli. Mau ke rumah Beli nggak?”
“Emangnya Gen kenapa?” Rin semakin tambah panik melihat mimik Cahyo yang panik seperti itu.
“Emm… Itu.. Anu.. Gen, koma. Dia ndak sadar dari tadi pagi, sekarang ane diminta…”
“Ayo cepetan! Tunjukin jalan ke rumah Beli.” Rin langsung menarik tangan Cahyo. Dia berlari menuju basement tempat parkir mobilnya. Tanpa disadarinya, air matanya menetes satu per satu.
“Anu, Rin. Gen bukan di rumah Beli, tapi di rumah sakit tempat ayahnya Beli kerja.”
Rin mengangguk pelan kemudian masuk ke dalam mobil diikuti oleh Cahyo.

(***)

Rin memarkirkan mobilnya di tempat parkir rumah sakit. kemudian berjalan tergesa mengikuti langkah kaki Cahyo menuju ruang ICU. Rin merasakan lututnya lemas seperti tidak sanggup untuk berjalan lagi. Saat dia mengetahui rumah sakit yang ditujunya adalah rumah sakit kanker, Rin langsung lemas dan mual. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa keadaan Gen yang sekarang, yang kena kanker.
Mereka tiba di ruang ICU. Beli kaget melihat Cahyo yang datang bersama Rin. Dia menepuk keningnya dan menarik Cahyo. Teman Beli menahan Rin agar tidak masuk ke ruang ICU terlebih dahulu.

“Cahyo… grrrrrrrrhh..! Beli gregetan. Dia bingung mau bilang apa. Sebab memang salah dia nggak ngasih tau Cahyo sebelumnya kalau tidak memberitahu Rin apapun tentang Gen.
“Kenapa?”tanya Cahyo polos.
“Kenapa harus sama, Rin??”
“Lah wong tadi yang dikampus cuma ada Rin. Yasudah ane berangkatnya sama Rin. Lagian dia sebelumnya nanya kea ne kabar Gen gimana. Yauddah sekalian.”

Grrrrrgghhhh,…!! Beli semakin gregetan. “Yasudah. Gen udah sadar tapi kondisinya masih kritis. Tadi katanya dia pengen ketemu lo sebelum kondisinya koma.”

“Oh, yasudah, ane kedalam dulu ya.” Cahyo kemudian beranjak dan masuk ke dalam ruang ICU sambil mengenakan baju khusus.
Rin duduk di depan ruang ICU bersama teman-teman Gen. lumayan banyak teman-teman Gen yang datang, mulai dari anak tongkrongan, teman kampus dan teman organisasinya. Tidak begitu banyak yang Rin kenal, hanya sebagian.
“Rin, maaf sebelumnya kita nutup-nutupin semua ini dari lo.” Ujar Beli seraya duduk disamping Rin.

“Kamu tahu, kita disini juga panik sama keadaan Gen yang seperti ini. penyakitnya memang sudah lama, tapi dia tidak mau ngasih tau gua sama teman-teman yang lain, bahkan lo juga gak dikasih tau. Kankernya sudah ada sejak lo pacaran sama dia. Dia berobat sendiri. Gua sebagai teman dekatnya gak dikasih tau. Dia itu keras kepala dan punya prinsip gak mau nyusahin orang lain.” Beli menghentikan kalimatnya. Air matanya menetes satu per satu. “Dia kerja part time buat biaya berobatnya. Gua kira dia kerja part time buat ngisi waktu kosong dan buat ngebiayain kuliah. Dia udah gua anggap sebagai kakak gua sendiri. Dia anak yatim piatu, udah biasa hidup ditempat keras kayak gini, tapi dia keras kepala! Dan gue tahu dia punya penyakit kanker saat gue nemuin resep obat keras di saku bajunya. Dan gue udah mulai curiga saat dia pergi kerja part time malam-malam. Dan ternyata dia bukan kerja, dia ke RS buat kemoterapi, buat ngobatin kankernya. Dia nutupin semua itu dengan berbohong sama gue, bahkan juga sama lo. Dan sekarang, inilah yang terjadi. Saat dia tau kalau gue udah tahu penyakitnya, dia mint ague untuk tutup mulut dan dia nggak mau lo tahu tentang penyakitnya ini. dia benar-benar keras kepala. Dia nggak mau nyusahin orang lain.” Ujar Beli panjang lebar.

Rin menyeka air matanya. Saat dia melihat Cahyo keluar dari ruang ICU, Rin bergegas masuk. Sebelumnya dia ditahan oleh suster karena sudah banyak yang masuk ke ruangan itu. Beli menjelaskan kalau Rin adalah penjenguk terakhir. Akhirnya Rin diizinkan masuk.
Tubuh kurus itu terbaring lemas diatas kasur putih dengan selang pipa infuse dan obat serta jarum menusuk tubuhnya. Rin menghampiri Gen yang terbaring lemah. Rin tidak bisa membendung air matanya. Dia membiarkan air matanya tumpah begitu saja. Dipeluknya tubuh Gen. Ditatapnya mata Gen. mata yang dulu sering menatapnya dalam-dalam, tatapan yang dulu penuh kasih sayang. Kondisi gen sangat memprihatinkan. Tidak ada sehelai rambut lagi yang tumbuh dikepalanya akibat kemoterapi, dan disekitar matanya agak cekung dan sedikit menghitam.

“Rin..” Panggil Gen dengan nada getir.
“Ya…” jawab Rin. Dia menatap Gen. dia merindukan sosok Gen yang dulu selalu melindunginya dan selalu menghiburnya.
“Maaf..” ucap Gen getir..
“Maaf buat apa? Kamu nggak salah kok. Aku yang salah. Akunya yang egois. Selalu pengen menang sendiri.” Rin semakin terisak.
“.. Rinn…”
“Iya?”
“ Jangan … nangis..” Gen berusaha untuk menyeka air mata Rin. Tangannya gemetar seperti tidak ada tenaga lagi. Tapi akhirnya dia bisa menyeka air mata Rin.

Tiba-tiba suster masuk ke dalam ruang ICU dan mengatakan kalau waktu Rin sudah habis. Rin menyeka air matanya sekali lagi. Rin pamit kepada Gen.

“Gen, aku yakin kamu bakalan baik-baik aja kok. Banyak yang bisa lolos dari penyakit ini. aku pulang dulu. Besok aku kesini lagi.”
Gen mengangguk. Saat Rin sudah beberapa langkah meninggalkan Gen. tiba-tiba Gen memanggil Rin.
“Rin..?”
Rin menoleh ke arah Gen.
“Jangan… Nangis.. Lagi ” ujarnya dengan nada getir. “Bye.. Bye..”
Rin semakin terisak. Dalam keadaan seperti itu dia masih bisa melihat Gen tersenyum. Rin meninggalkan ruang ICU. Dia berjalan keluar ruangan dan langsung menuju kamar mandi. Dia ingin menangis dan meluapkan semua emosinya.

(***)

Keesokan harinya, Rin sudah siap-siap untuk berangkat ke RS untuk menjenguk Gen. dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Rin langsung memasukkan barang-barang yang harus dibawanya, buku dan laptop untuk menyelesaikan tugas kampusnya.
Tapi, saat dia ingin keluar dari halaman rumahnya, Rin dihentikan oleh Beli.

“Rin, bisa kita ngobrol sebentar di dalem rumah kamu?”

Rin akhirnya menyetujui dan kembali memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Rin mengajak Beli masuk ke dalam rumah. Beli duduk sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Flashdisk. Lebih tepatnya itu punya Gen. Rin tahu, soalnya flashdisk itu selalu dibawa Gen kemana-mana.

“Nih, dari Gen.”
“Lho? kenapa?”
“Ummm.. gue harap tar malem atau besok lo liat isinya. Jangan sekarang.”
“Kenapa emang?”
“Rin, Gen udah nggak ada.”

Rin tersentak kaget. Dia menutup mulutnya. Hal ini sangat mengejutkannya. Rin merasakan dadanya sakit. kerongkongannya tercekat. Matanya perih dan mukanya panas. Rin merasakan tubuhnya lemas seketika. Dia tidak bisa membayangkan semuanya. Gen? secepat itukah? Gen? kenapa bisa secepat ini?

(***)

Malamnya, Rin masih terhenyak dan masih tertekan atas kabar tentang Gen. Setelah pulang dari pemakaman Gen, Rin langsung mengurung diri di kamar. dia menangis sampai matanya perih.

Rin teringat dengan falshdisk Gen yang dikasih Beli waktu itu. Rin langsung mencolokkan flashdisknya dan langsung melihat isinya. Di dalamnya terdapat dua folder. Folder pertama namanya foto with Rin, folder yang kedua namanya Video untuk Rin.

Rin mulai membuka folder kedua. Didalamnya ada satu video, kemudian Rin langsung meng-klik video tersebut.
Hai, Rin. Apakabar? (Dalam video itu ada Gen. Gen yang membuat video itu sendiri. Mungkin mengguakan hadycam. Rin yakin, pasti Gen membuat video ini pas lagi di kamar rumah sakit)

Rin, sebelumnya, aku pengen minta maaf sama kamu. Aku pengin ngejelasin semuanya waktu itu ke kamu. Tapi kamunya langsung pergi. Maaf, Rin. Aku ngambil keputusan ini karena aku gak mau nyusahin kamu nantinya.

Rin,maaf kalau selama ini aku sering bohongin kamu. Sebenarnya, setiap aku bohong ke kamu, aku lagi di rumah sakit. lagi kemoterapi. Maaf , Rin.aku ngambil keputusan buat putus hubungan ke kamu, karena aku udah nggak tau mau gimana lagi. Waktu itu aku divonis dokter yang menangani aku kalau umurku paling lama dua bulan lagi. Maka dari itu, aku mutusin kamu agar kamu nantinya nggak kaget. Mungkin ini tindakan bodoh. Tapi, waktu aku mutusin kamu, kamu terlihat fine-fine aja. Apa karena kamu waktu itu marah sama aku, Rin? Apa karena aku udah keterlaluan sama kamu, Rin?

Rin, maaf sebelumnya kalau aku nutupin semua ini dari kamu, aku nggak bisa ngejelasin ke siapa-siapa kalau aku punya penyakit kanker ini. Cuma Beli yang tahu. Aku bingung mau ngejelasin ini ke kamu. Waktu itu aku sempat ke kampus buat nemuin kamu, tapi waktu itu bukan waktu yang tepat buat ngomongin masalah ini, waktu itu aku lihat kamu lagi have fun sama seorang cowok. awalnya  Aku nggak tahu cowok itu siapa, tapi akhirnya aku tahu kalau itu cowok baru kamu. Aku dikasih tahu Beli. Mudah-mudahan lancar ya dan lanjut sampe nikah. Hehe,….
Oiya, maaf waktu itu aku gak bisa datang ke acara ultah kamu. Aku Cuma bisa nitipin kado sama Beli. Maaf kalo kadonya jelek dan nggak berharga…

Sampai disini Rin memencet tombol “pause”. Rin beranjak dari kasurnya dan mengambil kado pemberian Gen waktu itu. Kado itu belum sempat dibukanya. Rin langsung membuka kado tersebut dan saat itu juga air mata Rin tumpah. Bunga Edelweis yang waktu itu tidak diambilnya dari Gen pada saat Gen mutusin Rin. Rin terhenyak. Dia mengambil secarik kertas yang ada dalam kado tersebut. Dia membacanya.

“SELAMAT ULANG TAHUN. SEMOGA SEMUA CITA-CITA DAN HARAPANNYA TERCAPAI. JADI SEMAKIN DEWASA DALAM ILMU PENGETAHUAN DAN AGAMA. AMIEN”

Rin menyeka air matanya dan kembali melihat video tadi.

Malam itu rencananya aku pengin banget ke acara ultah kamu. Aku pengin liat kamu pake gaun. Kata Beli, kamu malem itu cantik banget. Oiya Rin,bunga edelweiss itu aku sendiri lho yang metik. Hehe, aku boong lagi ke kamu waktu itu. Aku gak bilang-bilang kalau aku ikut pendakian missal sama anak Pencinta Alam. Rencananya mau bikin surprise eh malah sakit kena hipotermia. Hehe.

Rin, kamu adalah cewek baik yang peduli dan care sama aku. Makasih atas semuanya, kamu baik banget Rin. Dan juga, tadaaaa… (Gen memakai topi pemberian Rin).. topi ini berharga banget buat aku. Makasih ya. hehe.. makasih atas semuanya.
Semuanya udah terjadi, dan kita udah bikin kenang-kenangan dalam memori kita. Bercanda, berantem, ledek-ledekan, nonton bareng, jalan bareng, dan semuanya adalah hal yang berharga dan sayang untuk dilupain.

Rin, seandainya kamu tahu perasaan aku waktu aku mutusin kamu, rasanya sakit banget, Rin. Tapi itulah jalan yang harus aku ambil. Oiya, bentar lagi kamu siding skripsi ya? mudah-mudahan sukses ya, Rin. Amien. Langsung dapet kerja dan semua cita-cita kamu bisa tercapai.
Rin, seandainya nanti aku udah nggak ada. Aku pengen kamu nggak ngelupain aku kalau kamu bisa. Sebab, orang yang sudah nggak ada di dunia ini, hanya akan bisa hidup dalam setiap kenangan orang yang masih hidup. Aku pengen hidup lagi dalam kenangan kamu, Rin.
Sampai disini dulu ya, Rin. Aku minta maaf kalau aku pernah nyakitin perasaan kamu.
Bye-bye, Rin.

Rin terdiam. Dia memeluk bantalnya sangat erat. Rin terisak. Tangisnya tak bisa berhenti.

Jauh di lubuk hatinya, dia sangat meraskan kehilangan Gen. saat dia mengingat Gen, senyum indah Gen selalu berkelebat dalam benaknya. Gen, maafin aku. Maafin aku. Gumam Rin sambil terisak.
READ MORE >>> Pacar Tukang Bohong (FULL)

Kisah


  • Terkadang kita lupa, apa saja yang telah kita lakukan selama kita hidup di dunia ini. Seberapa besar amal yang sudah kita perbuat, seberapa besar dosa yang pernah kita lakukan. Kita pun lupa, sebagai seorang anak apakah kita sudah berbakti pada orang tua ? Apakah kita sudah membahagiakan orang tua kita ? Kita yang sudah semakin beranjak dewasa malah sibuk sendiri dengan Hp, pacar, game, dll. Sadarkah kita bahwa kita selalu menuntut orang tua. Ada sebuah kisah tentang pohon apel dan seorang anak kecil. Kisah ini saya baca dari sebuah buku dan saya tulis lagi menurut versi saya, tapi saya lupa judul buku itu. Untuk yang menulis dan menerbitkan buku ini, saya mohon ijin untuk menunjukkan tulisan ini untuk para blogger.

  • # KISAH POHON APEL DAN SEORANG ANAK KECIL #
  • Suatu ketika, tumbuh pohon apel yang sangat subur di halaman belakang rumah. Setiap hari ada anak yang memanjat pohon tersebut. Sebut saja si Amir. Ia sering memanjat pohon itu, bermain – main, memakan buah dari pohon itu, tak jarang ia hanya sekedar duduk di bawah pohon yang rindang itu.Kini si Amir sudah tumbuh menjadi remaja. Ia pun jarang mengunjungi pohon apel lagi. Pohon apel sedih, ia merasa kesepian. Lalu suatu hari si Amir berkunjung, pohon apel itu merasa senang. Ia berkata, ” Hai, Amir…Ayo kita bermain. Sudah lama kamu tidak bermain denganku…” Lalu si Amir menjawab,” maaf, tidak seharusnya aku bermain denganmu lagi. Aku sudah besar. Sekarang aku ingin membeli Game terbaru tapi aku tidak punya uang.” Pohon apel cukup kecewa dengan jawaban si Amir namun ia tetap sabar. Kemudian pohon apel pun berkata, ” oh,kamu butuh uang…tapi aku tidak punya uang. Bagaimana kalau kamu ambil saja semua buah di pohonku lalu kau jual ke pasar. Uangnya bisa kau belikan game yang kamu inginkan.” Tanpa banyak bicara, Amir pun segera mengambil semua apel yang ada di pohon itu. Lalu ia pun menjualnya ke pasar. Dan ia mendapat uang untuk membeli game itu.Waktu berlalu, kini si Amir pun telah dewasa dan berumah tangga. Si pohon apel pun kini telah semakin menua, ia sudah jarang berbuah. Di masa tuanya ia merasa sedih karena si Amir sudah tidak pernah mendatanginya lagi. Namun suatu hari si Amir datang dan tentu saja pohon apel bahagia. “Ayo, bermainlah kau disini.” ajak si pohon apel. “ah, tidak…aku sudah tidak pantas untuk bermain-main lagi. Sekarang aku ingin membuat rumah tapi aku tak punya uang untuk membeli atap.” keluh si Amir. “Oo,begitu ya…apa yang bisa aku bantu? Ah, ini ambillah ranting-rantingku. Aku harap ini dapat digunakan untuk atap.” Amir pun bergegas mengambil semua ranting pohon itu. Setelah itu bertahun-tahun Amir tidak lagi mendatangi pohon itu. Si pohon semakin tua, ia sudah tidak dapat berbuah lagi. Daunnya pun sudah tak serimbun dulu. Begitu juga dengan Amir, kini ia sudah tua.Suatu sore terlihat si Amir merenung di bawah pohon apel itu. “Hai, kenapa kamu murung…lebih baik kamu bermain denganku.” hibur si pohon. “Maaf, aku sudah terlalu tua untuk melakukan itu.” jawab si Amir. “Lalu apa yang bisa membuatmu tidak murung seperti itu ?” tanya si pohon. “Aku ingin berlayar tapi aku tidak punya kapal.” Si pohon terdiam sejenak lalu berkata,” Ini ambillah batang pohonku. buatlah kapal dan bersenang-senanglah sepuas-puasnya.” Si Amir pun bergegas menebang pohon itu dan membuatnya sebagai kapal.Keesokan harinya si Amir datang lagi ke pohon apel yang kini tinggal akar-akar tua. “Mau apa kau ke sini ? aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Buahku telah kau jual, rantingkku telah kau ambil untuk atap rumah dan batangkku telah kau ambil untuk membuat kapal, kini tinggal akar yang sudah kering yang tidak ada gunanya lagi.” Ucap si pohon apel. “Tidak, aku hanya ingin beristirahat. Aku merasa sangat lelah dan ku rasa akarmu yang besar ini dapat ku manfaatkan. Boleh aku bersandar padamu ?” tanya si Amir. “oh, jika akar tua ini masih berguna untukmu, dengan senang hati. Silahkan bersandar di sini?” Jawab si pohon.
*****************************************************************************************************************Nah, dari kisah di atas dapat di ibaratkan pohon apel itu adalah orang tua kita dan si Amir adalah kita, para anak. Pohon apel rela memberikan semua yang ia punya untuk si Amir. Begitu juga dengan orang tua kita. Mereka rela memberi apapun yang ia miliki untuk kita namun kita sebagai anak kadang lupa akan kasih sayang mereka. Kita hanya bisa menuntut tanpa memikirkan mereka. Kasih sayang orang tua melebihi luasnya samudera. Maka kita pun harus patuh pada mereka. Kapan lagi kita berbakti pada orang tua kalau bukan sekarang ? Sebelum kalian menyesali kepergian mereka.


Oke guys…sayangi orang tua kalian. Berbaktilah pada mereka…Sekian tulisan ini…maaf ya jika ada kalimat yang kurang berkenan…Terima kasih… :)
READ MORE >>> Kisah